Thursday, July 2, 2009

Hari Pertama Kerja? Harus Bagaimana, Ya?

Akhirnya, setelah sekian banyak proses perekrutan, Anda termasuk sebagai orang yang dianggap layak untuk bekerja di perusahaan yang diincar banyak pelamar kerja. Ini merupakan kesempatan baik, masa depan Anda ditentukan mulai dari detik ini. Sementara, ini merupakan teritori baru. Jika Anda tak memiliki kenalan siapa pun di kantor tersebut, apa yang harus dilakukan?

Karena masih baru, impresi tentang siapa dan bagaimana Anda di mata rekan-rekan kerja lainnya terbentuk di hari-hari pertama bekerja. Maka, amat penting untuk Anda menjaga emosi dan cara bersikap. Berikut adalah 6 tips untuk memberikan impresi baik di hari pertama Anda bekerja sekaligus menjaga reputasi profesional Anda.

Tidak datang terlambat.
Jika perusahaan Anda biasanya memberikan pelatihan bagi para karyawan barunya, dan Anda tak tahu kapan dimulainya, ambil lah inisiatif untuk bertanya. Lalu, usahakan datang lebih cepat dari waktu yang ditentukan, untuk memberikan Anda waktu bersiap, mengurangi ketegangan sebelum memulai pelatihan, juga untuk mengantisipasi hal-hal yang mungkin bisa membuat Anda terlihat tidak profesional, misalnya merapikan baju dan riasan.

Pakaian
Usahakan untuk mengingat pakaian apa yang dikenakan para karyawan di sana ketika Anda sedang dalam proses wawancara, lalu perkirakan apakah Anda sudah memiliki pakaian yang seperti itu. Cobalah untuk mengenakan pakaian yang konservatif terlebih dulu, jikapun Anda melihat para pekerja di sana ada yang mengenakan denim. Meski sebagian besar pegawai di sana mengenakan pakaian kasual, akan lebih baik jika Anda bersiap diri dengan mengenakan pakaian yang rapi dan profesional di hari-hari pertama, untuk memberikan kesan baik.

Perhatikan tata krama
Jangan pernah melupakan tata krama, bersikap lah sopan, sapa orang-orang yang berpapasan dengan Anda, jangan lupa untuk berterima kasih kepada orang yang memberikan pelatihan. Kolega Anda mungkin tak akan ingat hal-hal kecil, namun mereka juga tak akan memiliki kesan bahwa Anda pernah berlaku kasar. Karenanya, penting untuk bersikap sopan dan menjaga tata krama. Usahakan untuk tidak terlibat dalam pembicaraan yang bisa menyinggung orang lain, apalagi yang menyinggung SARA (Suku, Agama, Ras, Anatomi tubuh).

Ikuti aturan
Terkadang ada hal-hal yang pernah Anda pelajari di tempat Anda bekerja dulu yang sebenarnya baik untuk diterapkan di tempat baru. Namun, jika Anda tidak diharuskan untuk langsung membuat gebrakan dan mengubah sistem yang sudah berlaku, jangan coba-coba mengkritik atau berusaha mengubah sistem yang ada. Karena, sikap semacam ini bisa dinilai terlalu sombong, dan memaksa. Jangan berusaha membuat perubahan, apalagi yang mendasar sebelum Anda sudah benar-benar mengerti alur kerja dan aturan yang berlaku di dalam perusahaan. Karena, tak banyak orang yang siap dengan perubahan mendadak. Jika Anda memaksakan ide inovatif terlalu cepat, bisa-bisa rekan kerja Anda menjauh dari Anda. Yang terpenting lagi, jangan pernah bicara negatif tentang siapa pun atau apa pun di tempat itu.

Jangan takut bertanya
Namanya juga anak baru, wajar jika Anda banyak bertanya, kan Anda belum paham. Para pelatih, atasan, dan HRD bisa menilai, jika Anda banyak bertanya berarti Anda memiliki ketertarikan dan keinginan untuk bisa lebih baik dalam pekerjaan baru Anda. Namun, pastikan juga Anda tak banyak bertanya tentang hal-hal yang sudah jelas dan seharusnya sudah Anda ketahui, karena Anda bisa dikira sebagai orang yang lamban dalam belajar. Bisa juga Anda mengkonfirmasi hal-hal kunci yang berhubungan dengan prosedur spesifik mengenai segala hal yang berkaitan dengan produksi. Dengan begini, Anda bisa mengintip gambaran besarnya. Juga, pastikan bahwa para pelatih mengetahui bahwa Anda memerhatikan si pelatih.

Be personable
Tak ada yang bisa berhasil tanpa orang lain. Maka, pastikan Anda dinilai sebagai orang yang sosial. Orang yang supel bisa dinilai sebagai pekerja yang efisien. Usahakan untuk selalu menyapa hangat para kolega, menjabat tangannya dengan erat. Intinya adalah untuk menunjukkan kehangatan pribadi Anda dan kepercayaan diri. Namun, orang yang terlalu percaya diri berlebihan dan over friendly juga tak enak dijadikan teman. Ambil waktu untuk meresapi kultur perusahaan sebelum membuat Anda jadi bagian di dalamnya.

Tips ini membantu Anda untuk meninggalkan impresi baik di hari pertama, namun jangan terlalu memfokuskan energi Anda untuk menunjukkan eksistensi diri di hadapan atasan Anda. Yang lebih penting adalah Anda mendengarkan dan belajar agar bisa mendapatkan dan mengerti kondisi kantor.

Karier Melesat Setelah Pascasarjana?

Beberapa tahun terakhir ini semakin banyak wanita karir yang berbondong-bondong melanjutkan kuliahnya di program pasca sarjana. Benarkah karir otomatis melesat setelah mengantongi ijazah S2?

Di tengah persaingan yang makin kompetitif di dunia kerja, latar belakang pendidikan yang tinggi sering dipakai menjadi modal untuk meningkatkan karir. Tak heran jika animo para pekerja untuk melanjutkan jenjang pendidikannya semakin tinggi.

Raphael Udik Yunianto, Head of Corporate Human Resources Management dari Media Group, mengatakan, pendidikan memang salah satu faktor dalam hal peningkatan karir seseorang namun tidak mewakili seluruhnya.

"Soal promosi hal itu tergantung pada kebutuhan organisasi perusahaan. Kalau memang butuh orang-orang dengan kualifikasi individu, misalnya butuh syarat pendidikan tertentu, pasti dari sisi kompetensi ia lebih dipandang dari yang lain.

Meski demikian, menurut Udik seseorang tidak otomatis mendapat promosi hanya karena ijazah yang dikantonginya. "Di dunia kerja swasta, bukan ijazah apa yang dilihat tetapi apakah orang tersebut dipekerjaannya perform atau tidak, bagaimana pencapaiannya, apakah ia memenuhi target tertentu. Itu yang dilihat," paparnya.

Ia menambahkan, banyak faktor yang mempengaruhi kemajuan karir seseorang. "Banyak kok yang pintar-pintar tapi tak sukses di perusahaan swasta," ujarnya.

Membantu

Kendati pendidikan tinggi bukan jaminan kesuksesan, namun Ryan Alfons Kaloh, Chief Marketing Officer Binus Business School, berpendapat pendidikan sangat membantu karir.

"Memang bukan jaminan, tapi bisa membantu. Apalagi untuk orang yang merasa tersandera oleh pekerjaannya dan ingin mengembangkan karir, pilihan untuk melanjutkan kuliah adalah hal yang tepat," kata Ryan.

Selain untuk mengasah kemampuan, program kuliah pasca sarjana banyak dimanfaatkan oleh para mahasiswanya untuk memperluas jaringan kerja.

Namun Ryan mengingatkan saat ini sudah ada puluhan ribu pekerja yang berijazah S2, karenanya ia menyarankan agar kita tetap membekali diri dengan skill yang lebih. "Sudah banyak orang yang ilmunya sama, agar unggul kita harus mengasah soft skill kita," cetusnya.

Senada dengan Ryan, Udik juga menyarankan pentingnya memiliki keterampilan lebih. "Banyak faktor kesuksesan karir, misalnya leadership, performance dalam pekerjaan, serta mampu mengikuti kultur perusahaan," ujarnya.

Cara lain untuk meningkatkan soft skill kita adalah dengan mengikuti berbagai pelatihan dan kursus, misalnya untuk meningkatkan kemampuan bahasa asing. Dengan bekal skill tadi, kita akan bernilai jual lebih tinggi dibanding dengan sesama rekan yang juga lulusan pasca sarjana.