Saturday, September 26, 2009

4 Cara Mengkontrol Penyebab Stres

Ketika tekanan hidup mulai menghimpit, antara pekerjaan, kehidupan sosial, kehidupan keluarga, dan lainnya nampak mulai berat, diperlukan usaha lebih dan kemauan untuk menyeimbangkan hidup.

Dalam bukunya yang berjudul Overworked, Overwhelmed, and Underpaid, Barajas menceritakan tentang orang-orang yang memiliki tipe dualsentris. Orang-orang semacam ini menempatkan pekerjaan dan kehidupan pribadinya dalam level yang sama. Dan ketika terjadi keseimbangan seperti ini, maka stres tak akan terlalu terasa menekan. Barajas menekankan 4 poin untuk membantu kita menyeimbangkan hidup;

1. Tetapkan batasan tegas antara pekerjaan dan sisa hidup Anda lainnya. Barajas mengatakan pentingnya untuk mendefinisikan garis antara rumah dan pekerjaan. Ketika orang yang memiliki dualsentris tadi bekerja, mereka fokus dalam pekerjaan. Ketika mereka pulang ke rumah, pekerjaan dan segala hal yang terkait dengannya ditinggalkan di kantor. Mereka jarang membawa pulang pekerjaan, dan tak membuka jalur komunikasi yang berurusan dengan pekerjaan di luar jam kantor.

2. Fokus dengan apa yang Anda kerjakan di saat ini. Berada di suatu tempat tidak berarti Anda bisa fokus dengan keadaan. Ketika Anda memberikan atensi terbesar di manapun Anda berada, secara fisik, mental, dan emosional, Anda akan mendapati bahwa Anda bisa memberi sekaligus mendapatkan lebih banyak, baik itu dari tugas kantor, maupun hubungan Anda. Usahakan untuk berada di suatu tempat dan fokus, jangan biarkan pikiran Anda mengembara ke mana-mana saat Anda seharusnya melakukan sesuatu.

3. Ambil waktu untuk beristirahat dan menyembuhkan diri. Akan sangat baik untuk bisa mencapai atau melebih ekspektasi di pekerjaan, namun yang tak kalah pentingnya untuk memperhatikan jangka panjang, yakni kesehatan Anda. Menjaga diri Anda adalah investasi jangka panjang yang amat berharga secara profesional dan personal. Barajas memberi saran untuk menciptakan sebuah atmosfer untuk kemungkinan hal ini. Manjakan diri Anda untuk me-recharge kembali energi Anda, dengan kata lain, jangan lupa untuk mencari ‘me-time’.

4. Tetapkan prioritas Anda. Ketika Anda merasa kelelahan kala bekerja, kenyataannya, Anda sudah kehilangan prioritas Anda. Anda harus memutuskan apa yang penting untuk Anda. Salah satu cara untuk mendapatkannya adalah dengan menciptakan sebuah cetak biru hidup. Tetapkan apa tujuan hidup, peran yang ingin Anda emban, nilai-nilai, dan arti hubungan Anda. Ketika Anda mendesain cetak biru hidup Anda, kerjakan dan lakukan semampunya, niscaya stres akan menjauh dan hidup Anda lebih penuh. Tentunya ciptakan cetak biru dan cita-cita yang realistis agar tak menjadi beban yang berat di pundak Anda.

Sunday, August 30, 2009

Tips Mengurangi Pengeluaran Bulanan

Dampak dari krisis keuangan global yang terjadi saat ini mungkin belum terasa secara langsung dalam kehidupan kita. Namun, ada baiknya kita mulai bijaksana dalam mengelola keuangan, agar kita tidak panik saat pengaruh krisis tersebut mulai kita rasakan. Misalnya, bila perampingan karyawan di kantor suami yang semula hanya merupakan desas-desus akhirnya menjadi kenyataan. Atau, berbagai tunjangan di kantor yang mulai dikurangi akibat menurunnya keuntungan perusahaan. Belum lagi harga-harga yang cenderung naik, yang akhirnya membuat kita tersadar: ternyata hal ini tak cuma dirasakan golongan dengan ekonomi lemah.

Banyak hal yang sebenarnya dapat kita lakukan untuk mulai lebih cermat dalam mengatur pengeluaran. Coba lihat catatan pengeluaran Anda setiap bulan. Adakah yang dapat dikurangi atau bahkan dihapuskan? Bila salah satu pengeluaran dihapuskan, besarkah pengaruhnya untuk kesehatan keuangan Anda secara keseluruhan? Adakah suatu "kemewahan" dalam gaya hidup Anda yang bisa sedikit dikurangi? Ini yang mungkin dapat Anda pertimbangkan:

Batasi makan di luar rumah.
Biasanya Anda tak pernah berpikir dua kali saat memutuskan makan malam atau ngopi-ngopi di mal sepulang kantor. Namun bila Anda mulai merasakan tambahan biaya saat harga-harga naik, pikirkan kembali hal ini. Anda bisa memilih makan di luar pada hari Jumat, atau pada hari Sabtu-Minggu saja. Anda akan sangat menghemat pengeluaran. Bila perlu, bawa sendiri makan siang untuk di kantor.

Hitung lagi pengeluaran untuk komunikasi.
Untuk apa mengambil paket BlackBerry yang Rp 250.000,- atau unlimited? Pilih saja yang paling murah, Rp 150.000,-, lalu sering-seringlah nongkrong di area hotspot. Di saat yang sama, batasi ngobrol melalui ponsel. Bila Anda juga menggunakan kartu CDMA, jangan hanya menggunakannya untuk menelepon ke sesama operator (jika pulsanya hemat, bukankah sisanya masih banyak?).

Kurangi pengeluaran untuk majalah.
Anda mungkin senang membeli majalah-majalah fashion atau lifestyle, baik lokal maupun asing. Bila ingin bijaksana, langganan saja salah satunya, dan hindari membeli setiap edisi majalah lain yang Anda anggap menarik isinya. Seringkali Anda juga membeli majalah hanya karena memberikan bonus tas yang lucu. Padahal, isinya tidak menarik perhatian Anda.

Kurangi pengeluaran untuk transportasi.
Jika kawasan perumahan Anda menyediakan bus feeder busway, tinggalkan mobil Anda di rumah atau di terminal, dan gunakan transportasi umum ini. Atau, jika ada beberapa orang di kantor Anda yang tinggal di kawasan yang berdekatan, aturlah untuk menggunakan satu mobil saja. Anda bisa patungan untuk membayar tol atau bensin.

Downgrade program TV berlangganan.
Jika Anda baru tiba di rumah rata-rata pukul 21.00, weekend pun sering menghabiskan waktu di luar rumah, untuk apa mengambil program TV berlangganan yang premium? Ambil saja paket berlangganan yang dasar, sekadar agar Anda dapat menikmati tayangan TV yang lebih jelas.

Kurangi pengeluaran listrik,
dengan mematikan AC saat Anda sudah tidak berada di kamar, mematikan lampu-lampu saat Anda bepergian malam hari, tidak membiarkan komputer terus menyala saat Anda melakukan aktivitas lain, mematikan TV saat tidak ada yang menonton di depannya, dan lain sebagainya. Selain menghemat biaya, Anda juga sudah mendukung kampanye go green atau antipemanasan global.

Jangan terlambat membayar kartu kredit atau asuransi.
Keterlambatan akan menyebabkan Anda terkena denda yang lumayan besar jumlahnya. Atasi rasa malas Anda untuk mengunjungi bank, atau buat reminder bahwa Anda sudah harus membayar tagihan.

Penghematan pengeluaran dari masing-masing pos ini mungkin tak terlalu banyak. Namun jika diakumulasi, paling tidak Anda bisa menabung Rp 1.000.000,-. Bila Anda sudah membiasakan diri berhemat dan melihat hasilnya, Anda akan makin bersemangat untuk mengurangi pengeluaran di pos-pos lain.

Mengatasi Rasa Jenuh di Kantor

Kian hari Anda merasa tak bergairah, bahkan merasa semakin sulit menemukan inspirasi untuk menyelesaikan pekerjaan. Rasanya, ada saja yang bikin hati jadi tidak sreg menyelesaikan pekerjaan. Mulai dari alasan butuh ngopi dulu, butuh ngobrol dulu, chatting dulu, ngemil dulu, dan sebagainya. Sampai-sampai waktu terbuang percuma. Hasil kerja pun jadi tak maksimal.
Bila dilihat kembali secara jernih, inti permasalahannya memang ada pada diri Anda sendiri, yang sudah kehilangan gairah dalam pekerjaan. Masalah semacam ini, menurut Anny Nursani, konsultan sumber daya manusia dari Iradat konsultan, merupakan hal yang wajar terjadi. ”Sebetulnya masalah jenuh ini bisa dialami siapa saja. Baik orang yang bekerja maupun tidak, yang menduduki jabatan tinggi atau rendah, dan seterusnya,” ungkap Anny.
Anny menyarankan agar mencari tahu dan menyelesaikan kejenuhan yang terjadi sebelum menimbulkan permasalahan yang lebih dalam lagi.

Cari tahu penyebab
Anda perlu mengidentifikasi masalah mana yang sebenarnya menyebabkan Anda jenuh. Jika pekerjaan menuntut Anda selalu mengerjakan hal yang sama setiap hari berulang kali, wajar jika terjadi kejenuhan. Pekerjaan yang tak menimbulkan tantangan, seringkali membuat Anda jadi tak mampu berinovasi.
Jenuh juga bisa dipicu oleh lingkungan kerja yang begitu-begitu saja. Misalnya mendiami ruangan kerja yang tak ada perubahan, baik dari segi tata letak maupun dekorasi. Orang yang overqualified akan merasa tak tertantang dengan pekerjaan yang terlalu mudah. Begitu juga dengan orang yang sulit beradaptasi dengan tugas yang terlalu berat, akan merasa lelah dengan beban dan tanggung jawab yang diberikan.
Selain yang bersifat interpersonal, jenuh juga bisa dipicu hubungan antarpersonal yang dikembangkan dalam lingkungan kerja. Jika di lingkungan pekerjaan kerap ditemui konfrontasi yang tak kondusif, atasan yang kerap bersilang pendapat, instruksi atau strategi organisasi yang tak pernah sampai ke bawahan, dan sebagainya juga bisa menimbulkan kejenuhan. Namun, jika suasana bekerja kondusif dan pekerjaan juga sudah cukup variatif, tetapi Anda tetap merasa jenuh dengan pekerjaan, kemungkinan jenuh bisa timbul akibat hilangnya makna pekerjaan itu sendiri.
Bisa jadi selama ini Anda hanya bekerja karena sebab lain, seperti alasan desakan ekonomi, suami tak bekerja, dan lainnya, Anda pun bekerja bukan karena ingin mengaktualisasikan diri, tetapi sekadar terpaksa oleh kondisi. Hal semacam ini membuat Anda lama-lama kehabisan energi untuk menjadi produktif, karena tujuan bekerja bukan untuk diri sendiri.

Tak harus ganti pekerjaan
Mengetahui diri mulai kehilangan gairah dalam bekerja, bukan lantas harus mengganti pekerjaan. Cari tahu dulu, Anda jenuh karena apa? Jika masalahnya adalah pekerjaan yang terlalu rutin, Anny menyarankan untuk sesekali melakukan variasi kecil dalam pekerjaan.
Anda bisa memanfaatkan beberapa menit untuk beristirahat setelah berjam-jam di depan komputer, misalnya berbincang dengan rekan satu ruangan sejenak. Anda bisa membahas hal-hal lain yang lebih santai seperti bertukar informasi belanja, membicarakan Si Kecil, menanyakan di mana ia membeli aksesori, dan lainnya.
Sedangkan untuk mengatasi jenuh yang disebabkan lingkungan fisik kantor, bisa dengan menata ulang meja kerja. Meletakkan benda-benda yang berhubungan dengan hobi di sudut meja, bisa memberi nuansa berbeda. Anda yang bekerja di dunia kreatif juga bisa menata ulang jadwal maupun prioritas sehari-hari. Seorang salesman yang selalu datang pagi ke kantor, mengunjungi klien lalu kembali ke kantor, bisa mengubah rute perjalanannya. Misalnya, dari rumah Anda bisa langsung mengunjungi klien dengan rute yang lebih efisien.

Jika Anda memahami kejenuhan disebabkan hilangnya makna bekerja, perlu menata ulang makna pekerjaan. ”Umumnya, pekerjaan yang sesuai dengan minat tak akan mudah menimbulkan kejenuhan,” papar Anny.

Ikuti prosedur
Kadangkala, masalah kejenuhan tak bisa diselesaikan sendiri dengan mengubah mindset, kebiasaan, atau dekorasi meja kerja. Misalnya, kejenuhan yang disebabkan oleh sistem yang tak berjalan baik, konfrontasi yang sering terjadi, maupun disebabkan gap antara kompetensi diri dan persyaratan jabatan.
Tentunya tak bisa menggunakan otoritas Anda sendiri untuk menyelesaikannya bukan? Jika demikian, coba upayakan belajar dari pengalaman rekan yang lebih senior. Bagaimana mereka menerima semua kondisi dan bertoleransi dengan sistem yang sudah berjalan.

Jika Anda merasa semua mulai mengganggu performa kerja, ada baiknya bicarakan dengan atasan langsung apa yang dirasakan. Jangan lupa, kemukakan solusi yang diinginkan agar masukan Anda tak disalahpahami atasan. Selamat berintrospeksi!

Thursday, July 2, 2009

Hari Pertama Kerja? Harus Bagaimana, Ya?

Akhirnya, setelah sekian banyak proses perekrutan, Anda termasuk sebagai orang yang dianggap layak untuk bekerja di perusahaan yang diincar banyak pelamar kerja. Ini merupakan kesempatan baik, masa depan Anda ditentukan mulai dari detik ini. Sementara, ini merupakan teritori baru. Jika Anda tak memiliki kenalan siapa pun di kantor tersebut, apa yang harus dilakukan?

Karena masih baru, impresi tentang siapa dan bagaimana Anda di mata rekan-rekan kerja lainnya terbentuk di hari-hari pertama bekerja. Maka, amat penting untuk Anda menjaga emosi dan cara bersikap. Berikut adalah 6 tips untuk memberikan impresi baik di hari pertama Anda bekerja sekaligus menjaga reputasi profesional Anda.

Tidak datang terlambat.
Jika perusahaan Anda biasanya memberikan pelatihan bagi para karyawan barunya, dan Anda tak tahu kapan dimulainya, ambil lah inisiatif untuk bertanya. Lalu, usahakan datang lebih cepat dari waktu yang ditentukan, untuk memberikan Anda waktu bersiap, mengurangi ketegangan sebelum memulai pelatihan, juga untuk mengantisipasi hal-hal yang mungkin bisa membuat Anda terlihat tidak profesional, misalnya merapikan baju dan riasan.

Pakaian
Usahakan untuk mengingat pakaian apa yang dikenakan para karyawan di sana ketika Anda sedang dalam proses wawancara, lalu perkirakan apakah Anda sudah memiliki pakaian yang seperti itu. Cobalah untuk mengenakan pakaian yang konservatif terlebih dulu, jikapun Anda melihat para pekerja di sana ada yang mengenakan denim. Meski sebagian besar pegawai di sana mengenakan pakaian kasual, akan lebih baik jika Anda bersiap diri dengan mengenakan pakaian yang rapi dan profesional di hari-hari pertama, untuk memberikan kesan baik.

Perhatikan tata krama
Jangan pernah melupakan tata krama, bersikap lah sopan, sapa orang-orang yang berpapasan dengan Anda, jangan lupa untuk berterima kasih kepada orang yang memberikan pelatihan. Kolega Anda mungkin tak akan ingat hal-hal kecil, namun mereka juga tak akan memiliki kesan bahwa Anda pernah berlaku kasar. Karenanya, penting untuk bersikap sopan dan menjaga tata krama. Usahakan untuk tidak terlibat dalam pembicaraan yang bisa menyinggung orang lain, apalagi yang menyinggung SARA (Suku, Agama, Ras, Anatomi tubuh).

Ikuti aturan
Terkadang ada hal-hal yang pernah Anda pelajari di tempat Anda bekerja dulu yang sebenarnya baik untuk diterapkan di tempat baru. Namun, jika Anda tidak diharuskan untuk langsung membuat gebrakan dan mengubah sistem yang sudah berlaku, jangan coba-coba mengkritik atau berusaha mengubah sistem yang ada. Karena, sikap semacam ini bisa dinilai terlalu sombong, dan memaksa. Jangan berusaha membuat perubahan, apalagi yang mendasar sebelum Anda sudah benar-benar mengerti alur kerja dan aturan yang berlaku di dalam perusahaan. Karena, tak banyak orang yang siap dengan perubahan mendadak. Jika Anda memaksakan ide inovatif terlalu cepat, bisa-bisa rekan kerja Anda menjauh dari Anda. Yang terpenting lagi, jangan pernah bicara negatif tentang siapa pun atau apa pun di tempat itu.

Jangan takut bertanya
Namanya juga anak baru, wajar jika Anda banyak bertanya, kan Anda belum paham. Para pelatih, atasan, dan HRD bisa menilai, jika Anda banyak bertanya berarti Anda memiliki ketertarikan dan keinginan untuk bisa lebih baik dalam pekerjaan baru Anda. Namun, pastikan juga Anda tak banyak bertanya tentang hal-hal yang sudah jelas dan seharusnya sudah Anda ketahui, karena Anda bisa dikira sebagai orang yang lamban dalam belajar. Bisa juga Anda mengkonfirmasi hal-hal kunci yang berhubungan dengan prosedur spesifik mengenai segala hal yang berkaitan dengan produksi. Dengan begini, Anda bisa mengintip gambaran besarnya. Juga, pastikan bahwa para pelatih mengetahui bahwa Anda memerhatikan si pelatih.

Be personable
Tak ada yang bisa berhasil tanpa orang lain. Maka, pastikan Anda dinilai sebagai orang yang sosial. Orang yang supel bisa dinilai sebagai pekerja yang efisien. Usahakan untuk selalu menyapa hangat para kolega, menjabat tangannya dengan erat. Intinya adalah untuk menunjukkan kehangatan pribadi Anda dan kepercayaan diri. Namun, orang yang terlalu percaya diri berlebihan dan over friendly juga tak enak dijadikan teman. Ambil waktu untuk meresapi kultur perusahaan sebelum membuat Anda jadi bagian di dalamnya.

Tips ini membantu Anda untuk meninggalkan impresi baik di hari pertama, namun jangan terlalu memfokuskan energi Anda untuk menunjukkan eksistensi diri di hadapan atasan Anda. Yang lebih penting adalah Anda mendengarkan dan belajar agar bisa mendapatkan dan mengerti kondisi kantor.

Karier Melesat Setelah Pascasarjana?

Beberapa tahun terakhir ini semakin banyak wanita karir yang berbondong-bondong melanjutkan kuliahnya di program pasca sarjana. Benarkah karir otomatis melesat setelah mengantongi ijazah S2?

Di tengah persaingan yang makin kompetitif di dunia kerja, latar belakang pendidikan yang tinggi sering dipakai menjadi modal untuk meningkatkan karir. Tak heran jika animo para pekerja untuk melanjutkan jenjang pendidikannya semakin tinggi.

Raphael Udik Yunianto, Head of Corporate Human Resources Management dari Media Group, mengatakan, pendidikan memang salah satu faktor dalam hal peningkatan karir seseorang namun tidak mewakili seluruhnya.

"Soal promosi hal itu tergantung pada kebutuhan organisasi perusahaan. Kalau memang butuh orang-orang dengan kualifikasi individu, misalnya butuh syarat pendidikan tertentu, pasti dari sisi kompetensi ia lebih dipandang dari yang lain.

Meski demikian, menurut Udik seseorang tidak otomatis mendapat promosi hanya karena ijazah yang dikantonginya. "Di dunia kerja swasta, bukan ijazah apa yang dilihat tetapi apakah orang tersebut dipekerjaannya perform atau tidak, bagaimana pencapaiannya, apakah ia memenuhi target tertentu. Itu yang dilihat," paparnya.

Ia menambahkan, banyak faktor yang mempengaruhi kemajuan karir seseorang. "Banyak kok yang pintar-pintar tapi tak sukses di perusahaan swasta," ujarnya.

Membantu

Kendati pendidikan tinggi bukan jaminan kesuksesan, namun Ryan Alfons Kaloh, Chief Marketing Officer Binus Business School, berpendapat pendidikan sangat membantu karir.

"Memang bukan jaminan, tapi bisa membantu. Apalagi untuk orang yang merasa tersandera oleh pekerjaannya dan ingin mengembangkan karir, pilihan untuk melanjutkan kuliah adalah hal yang tepat," kata Ryan.

Selain untuk mengasah kemampuan, program kuliah pasca sarjana banyak dimanfaatkan oleh para mahasiswanya untuk memperluas jaringan kerja.

Namun Ryan mengingatkan saat ini sudah ada puluhan ribu pekerja yang berijazah S2, karenanya ia menyarankan agar kita tetap membekali diri dengan skill yang lebih. "Sudah banyak orang yang ilmunya sama, agar unggul kita harus mengasah soft skill kita," cetusnya.

Senada dengan Ryan, Udik juga menyarankan pentingnya memiliki keterampilan lebih. "Banyak faktor kesuksesan karir, misalnya leadership, performance dalam pekerjaan, serta mampu mengikuti kultur perusahaan," ujarnya.

Cara lain untuk meningkatkan soft skill kita adalah dengan mengikuti berbagai pelatihan dan kursus, misalnya untuk meningkatkan kemampuan bahasa asing. Dengan bekal skill tadi, kita akan bernilai jual lebih tinggi dibanding dengan sesama rekan yang juga lulusan pasca sarjana.

Tuesday, June 2, 2009

Bila Pekerjaan Diinterupsi Melulu

Paling sebal jika saat bekerja sering ada interupsi atau gangguan yang membuat time management berantakan. Akibatnya, jadwal Anda berantakan, atau tugas tak dapat diselesaikan pada waktunya. Agar hal ini tak lagi terjadi, kenali situasi yang dapat menyebabkannya, dan coba antisipasi.

Diserbu tugas dadakan
Catat semua permintaan mendadak yang datang. Catatan ini penting agar tidak lupa dan tugas tersebut bisa dijadwal. Tanyakan pula deadline-nya. Si pemberi tugas pasti akan bilang "Sekarang!" Namun, Anda mesti menawar waktu deadline-nya agar sesuai dengan kemampuan. Kemudian, atur prioritasnya. Jika ada deadline berbarengan, diskusikan untuk memilih tugas mana yang jadi prioritas pertama.

Tertimpa masalah pribadi
Kekasih minta putus atau orangtua Anda jatuh sakit? Musibah semacam itu memang bisa dengan mudah membuyarkan konsentrasi. Solusinya, ambil waktu beberapa menit untuk menenangkan diri di tempat yang agak sepi. Di pantry, misalnya. Minum segelas air dingin untuk membantu menenangkan pikiran. Balikkan keadaan dengan menjadikan masalah pribadi sebagai penyemangat supaya Anda bisa menuntaskan tugas lebih cepat dan dapat segera pulang ke rumah.

Gangguan sistem
Dalam bekerja, tentunya Anda tak mungkin mengandalkan kemampuan diri sendiri 100 persen, tetapi juga perlu memanfaatkan berbagai jenis sistem penunjang. Transportasi, misalnya. Jika terjebak macet dalam perjalanan menuju tempat klien, mungkin Anda bisa terlebih dulu mengawali perbincangan via telepon atau chatting melalui phone messaging.

Rekan mengajak ngobrol
Siapa pula yang tidak merasa terganggu bila teman mengajak curhat justru pada saat kita sedang ingin berkonsentrasi pada pekerjaan? Bingung menolaknya? Bangun saja "tembok penghalang" antara Anda dan dia dengan cara mengenakan ear-phone dan menunjukkan raut wajah serius. Jika ia tidak menangkap isyarat halus Anda, maka tak ada salahnya mengatakan baik-baik kepadanya untuk menunda ceritanya sampai jam makan siang atau sepulang kantor nanti.

Keranjingan Facebook
Internet memang bisa mempermudah pekerjaan, tetapi di sisi lain bisa juga menjadi penyebab terhambatnya pekerjaan. Apalagi jika setiap saat Anda rajin meng-update status Facebook dan memberi komentar. Sebaiknya sediakan waktu untuk membuka situs-situs tersebut di saat Anda sedang agak santai. Misal, pagi-pagi sebelum mulai bekerja atau menjelang pulang kantor.

Telepon terus berdering
Meski memudahkan kita mengontak orang-orang yang dibutuhkan, pesawat telepon yang terus berdering juga bisa mengacaukan konsentrasi kerja. Jika mungkin, mintalah bantuan kepada sekretaris untuk mencatatkan pesan yang masuk untuk Anda dalam tempo tertentu. Dari pagi hingga jam makan siang, misalnya. Matikan pula dering ponsel dan hubungi orang-orang yang ada dalam daftar missed calls ketika Anda sudah punya waktu.

Undangan meeting
Fokuskan perhatian Anda pada topik rapat supaya masalah yang dibahas bisa segera dipecahkan dan Anda dapat kembali bekerja. Jika Anda punya deadline yang amat mendesak, tak ada salahnya kok membicarakan dengan atasan apakah Anda boleh bolos rapat. Syaratnya, setor ide-ide yang ingin Anda sampaikan secara tertulis dan berikan saran kepada atasan.

Tamu tak diundang
Pengunjung yang datang ke tempat kerja memang bikin serba salah. Tapi itu mesti ditangani dengan tegas. Bayangkan jika seseorang datang pada saat Anda sedang sibuk-sibuknya dan mengajak ngobrol selama satu jam? Bukan saja dia akan merusak rencana, tetapi juga menyabot pekerjaan Anda. Untuk mengatasinya, batasi waktu kunjungan. Katakan sejak awal bahwa Anda ada keperluan lain. Atau Anda hanya punya waktu sekian menit/jam saja. Jangan mengatakannya di tengah percakapan. Anda akan dianggap bersikap kasar.

5 Trik Hadapi Penilaian Buruk Atasan

Penilaian tahunan yang dilakukan atasan sebenarnya hampir bisa dikatakan sama dengan penilaian keseluruhan kinerja Anda oleh perusahaan. Penilaian ini tentu sangat dipengaruhi oleh masukan dari atasan. Oleh karena itu, Anda perlu benar-benar meningkatkan kewaspadaan ketika mendapat penilaian yang buruk dari atasan. Perhatikan, sudahkah Anda melakukan yang terbaik? Apakah kelambanan dalam bekerja atau kebiasaan terlalu banyak bicara daripada bekerja mempengaruhi penilaian terhadap kinerja Anda?

Evaluasi yang diberikan tersebut tentu bisa mempengaruhi perasaan Anda. Namun, alangkah lebih baik jika kekhawatiran terbesar Anda tak menjadi kenyataan.

Tetap tenang
Ketika menghadapi penilaian buruk dari atasan, Anda mungkin merasa lemah. Namun usahakan tetap tenang dan dengarkan apa yang atasan katakan, tanpa berusaha defensif. Fokus saja kepada yang dituturkannya. Jika perlu, Anda bisa mencatat hal-hal penting yang diutarakannya. Dan ingat! Sebaiknya simpan sangkalan Anda untuk lain waktu saja. Sebab, itu tak akan menambah nilai positif pandangan atasan terhadap Anda.

Bagaimanapun, jika atasan sedang marah atau bersikap tak profesional, Anda bisa berusaha mengarahkan untuk melihat kembali kepada fakta dan informasi berguna lainnya. Katakan kepada atasan, ”Saya menghargai ketulusan Anda, tapi saya ingin mendapat umpan balik yang konstruktif agar bisa membantu saya menjadi lebih baik.” Sehingga, mengesankan kepada atasan, Anda mengerti letak permasalahannya. Dan untuk memastikan pula, Anda bisa lebih berorientasi pada solusi.

Beraksi, bukan bereaksi
Jika Anda merasa lemah, tersudutkan, atau merasa marah, coba ambil waktu lebih lama untuk menilik kembali dan menjawab kritik yang dilontarkan atasan. Sebagai karyawan yang profesional sebaiknya Anda minta waktu dan kesempatan lain untuk memikirkan kembali segalanya. Jelaskan kepada atasan, Anda butuh waktu 1-2 hari untuk membangun rencana baru sehubungan isu yang dijadikan kritikan.

Kenyataan bahwa Anda akan kembali dengan sejumlah solusi akan membuat atasan lebih mendukung sikap Anda. Namun, usahakan selama kurun waktu itu Anda benar-benar mengerahkan upaya dalam mengumpulkan ide atau solusi yang dibutuhkan secepatnya.

Ingat, perspektif itu subyektif
Anda tak harus menerima setiap kritik atas fakta performa kerja. Bahkan, sebenarnya boleh saja mengabaikan beberapa bagian yang menurut Anda tidak faktual. Nyatakan poin-poin penting dari review yang Anda buat, lalu Anda dapat menolaknya dengan mengatakan, ”Ada beberapa hal dari sudut pandang berbeda yang saya miliki, dan inilah yang sebenarnya terjadi.”

Dengan melakukannya, Anda akan mendapatkan kendali untuk mengarahkan pembicaraan kembali ke poin-poin yang dimiliki. Ini lebih terlihat bijaksana daripada menyerang evaluasi atasan atas kualitas Anda.

Bersikap realistis
Jika memang mendapatkan penilaian buruk dan Anda tidak sepakat, mungkin perlu untuk memutuskan tetap dengan pekerjaan saat ini atau pindah ke perusahaan lain. Jika masih mencintai pekerjaan Anda, sebaiknya terima masukan dan kritik yang diberikan.
Meski Anda tak sepakat dengan evaluasi atasan, namun kebanyakan orang bernyali menganggap pekerjaan ini tak cocok baginya dan mengabaikan instingnya. Jika memang demikian, memutuskan untuk pindah atau mengambil kesempatan lain bisa menjadi jalan keluar. Namun perlu diingat, jangan memutuskan untuk pindah atau menetap hanya karena Anda merasa takut. Toh, Anda membutuhkan semangat dan rasa percaya diri yang tinggi untuk pindah ke tempat kerja baru. Jika takut, Anda tak akan mampu membuat keputusan terbaik demi karier Anda.

Pelajari kesalahan
Ketika memulai pekerjaan baru, mungkin Anda akan merasa amat ketakutan kembali dengan evaluasi pertama. Anda bisa mencegah penilaian buruk dengan membuka komunikasi bersama atasan sejak awal bekerja.

Anda bisa memprediksikan evaluasi kerja dengan meminta atasan atau rekan kerja untuk memberikan umpan balik dan mengecek ulang kinerja Anda. Cari tahu seberapa sering Anda mendapat evaluasi jabatan serta memohon peninjauan kembali secara informal atas proyek besar Anda. Orang yang berkomunikasi secara terbuka sejak awal bekerja, akan mendapatkan umpan balik dari lingkungan kerjanya secara alami. Orang seperti ini lebih mudah melakukan perubahan yang baik, karena banyaknya masukan yang didapat dari orang-orang sekitarnya. Oleh karena itu, jadilah Anda sebagai orang yang pertama melakukannya.

Friday, May 22, 2009

Evaluasi Ulang Pekerjaan

Selalu mengeluh tentang pekerjaan, merasa terkekang, tak semangat kerja? Nampaknya Anda perlu mengevaluasi ulang pekerjaan dan memutuskan apakah ingin terus meniti karir di tempat yang sama atau ingin pindah tempat kerja. Sebelum Anda mengirimkan surat permohonan berhenti kerja, tanyakan beberapa hal berikut ini kepada diri Anda.

1. Apakah Anda suka dengan kultur dan lingkungan kerjanya?
Kultur dari sebuah perusahaan bisa memberi efek yang cukup besar terhadap kebahagiaan dan kesuksesan karyawannya. Apakah nilai-nilai yang diemban perusahaan sama dengan apa yang junjung? Jika ada hal-hal di dalam perusahaan yang tak sesuai dengan norma atau nilai di dalam diri Anda, sebaiknya Anda pikirkan untuk mencari tempat baru.

2. Apakah sulit untuk berangkat kerja?
Ketika Anda bangun di pagi hari, apakah Anda mendapati diri Anda tak bersemangat? Anda yang paling paham apa yang Anda rasakan di pagi hari sebelum berangkat bekerja. Apakah sering muncul alasan-alasan ‘ajaib’ yang datang di kepala untuk bolos kerja (lagi).

3. Bagaimana hubungan dengan atasan?
Alasan terbanyak orang meninggalkan pekerjaannya adalah karena ketidakcocokkan dengan atasan atau dengan si bos. Karyawan perlu untuk bisa bekerjasama dengan bos agar bisa terus bekerja dengan baik. Semakin banyak Anda bergaul atau bekerja dengan orang bergaya kepemimpinan yang berbeda, Anda akan semakin tahu tipe orang seperti apa yang cocok dengan Anda. Apakah pekerjaan Anda akan lebih baik jika pimpinan Anda diganti? Bagaimana jika ganti departemen saja, apakah akan lebih baik?
Apakah Anda bisa membicarakan mengenai perasaan Anda kepada si pimpinan, atau mungkinkah Anda menemukan cara baru untuk berkomunikasi? Jika Anda sudah mencoba dan mencari cara-cara baru namun masih belum juga ada titik terang untuk bisa berkomunikasi lebih baik dengan si atasan, mungkin memang sudah saatnya untuk mencoba bekerja di tempat baru.

4. Sukakah Anda dengan tugas dan pekerjaan sehari-hari?
Mungkin memang tak ada pekerjaan yang benar-benar hanya seputar bersenang-senang dan bermain-main, namun setidaknya seharusnya Anda bisa menemukan sedikit kesenangan dalam menjalani pekerjaan sehari-hari. Tugas sehari-hari Anda seharusnya bisa merefleksikan sisi terbaik dan kelebihan Anda. Misalnya, jika Anda senang bertemu, berkenalan, dan bekerja dengan orang baru, atau senang bertualang, mungkin Anda akan kesusahan dan tak kerasan bekerja 9 jam di belakang komputer.

5. Dapatkah Anda melihat masa depan dalam profesi ini?
Apakah perusahaan Anda akan memberikan pelatihan atau peningkatan kinerja? Bisakah Anda melihat diri Anda menapaki titian karir di perusahaan ini jika Anda mau? Jika pernah ada diskusi untuk melihat kemungkinan ini namun Anda tak melihat respons yang bagus, mungkin tak ada potensi bagus untuk Anda.

Sebelum Anda benar-benar meninggalkan ‘perahu’ Anda, pastikan dulu bahwa Anda sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mengubah situasi yang membuat Anda tak betah di sana. Carilah sebisa mungkin orang kompeten yang bisa Anda temui di kantor untuk membicarakan masalah yang dihadapi supaya bisa terus menjalani pekerjaan Anda. Proaktiflah dalam mencari kemungkinan untuk berkomunikasi kepada bos atau SDM bagaimana Anda bisa lebih sukses dalam karir. Jika Anda merasa belum mengalami perubahan positif dalam waktu dekat, evaluasi ulang apakah Anda sudah berupaya cukup banyak. Cukup tanyakan pada diri Anda “apakah saya sudah melakukan segala hal dengan segala kemampuan saya untuk memajukan karir saya di sini?” jika jawabannya ya, dan Anda masih merasa tak kerasan juga, mungkin sudah saatnya mencari pekerjaan di tempat lain. Semoga berhasil!

Laporan wartawan C6-09 Nadia Felicia @ kompas.com

Menjawab Pertanyaan Sulit Saat Wawancara

Wawancara kerja masih jadi momok bagi sebagian besar para pencari kerja. Padahal, dengan sedikit taktik Anda bisa, kok, berkelit dari pertanyaan-pertanyaan "jebakan". Kami bagi rahasianya.

Pertanyaan "masa depan"
Salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam sebuah wawancara adalah bagaimana peta karir kita di masa datang. Misalnya saja, "di mana Anda lima tahun mendatang?".

Menurut Caroline Levchuck, konsultan karir dari Yahoo!HotJobs, untuk menjawab pertanyaan seperti itu, pilih untuk mengungkapkan kelebihan Anda. Jangan memberikan detil rencana karir Anda, namun diskusikan hal-hal yang menurut Anda penting untuk meningkatkan kinerja dan profesionalisme dan apa rencana Anda untuk mencapainya.

Pertanyaan "gaji"
Tidak mungkin sebuah perusahaan merekrut karyawan tanpa bertanya atau mengetahui gaji yang akan diberikan. Banyak orang yang takut untuk menyebutkan nilai nominal tertentu untuk permintaan gajinya. Padahal mengatakan, "terserah atau mengikuti standar gaji di sini," juga bukan jawaban yang mencerminkan profesionalitas.

Bila Anda ditanya gaji yang diminta, cobalah untuk membelokkan pertanyaan dengan mencari keterangan mengenai standar gaji yang berlaku untuk posisi yang akan Anda masuki. Bila si penanya tetap meminta Anda menyebutkan angka, berikan jawaban berupa kisaran angka. Untuk menemukan kisaran yang tepat, pikirkan jumlah gaji yang Anda inginkan, gaji Anda sekarang dan standar gaji di pasaran untuk posisi Anda. Pertanyaan mengenai gaji termasuk hal penting, karena itu persiapkan jawabannya dengan baik.

Pertanyaan "mengapa"
Ada perbedaan besar antara pede dan membual. Bila Anda ditanya mengapa mereka harus menerima Anda, maka jawablah dengan jujur dan percaya diri tentang keterampilan dan kelebihan Anda. Tapi hindari bicara terlalu berlebihan atau membual.

Mungkin awalnya agak sulit membicarakan kelebihan diri sendiri, karena itu jangan segan berlatih. Sambil berkaca di depan cermin, katakan, "Saya orang yang bertanggung jawab, berintegritas, punya jaringan yang luas. Saya selalu gigih mencapai tujuan saya,", dan kelebihan-kelebihan lainnya.

Pertanyaan "aneh"
Banyak pertanyaan tak terduga dan mungkin terdengar aneh, dalam sebuah wawancara. Misalnya saja, pertanyaan "jika Anda pohon, maka pohon apakah Anda?", atau binatang, atau mobil. Jawaban dari pertanyaan ini akan memberikan gambaran bagi si penanya untuk mengetahui kepribadian calon karyawan, termasuk juga motivasi serta kekuatannya.

Bila Anda diberi pertanyaan seperti ini, jangan panik. Tarik napas dan tenangkan diri sebelum menjawabnya. Ingatlah bahwa tidak ada jawaban "benar atau salah" untuk pertanyaan ini. Terkadang pertanyaan ini juga dilontarkan untuk melihat reaksi Anda dan bagaimana Anda mengatasi hal-hal tak terduga.

Monday, May 18, 2009

5 Tanda Anda Harus Ganti Pekerjaan

Bekerja semestinya tak hanya dimaknai sebagai cara untuk menghasilkan uang atau mengaktualisasikan diri. Ada saatnya setiap orang mengalami pasang-surut. Beberapa lainnya dapat menjadi sangat produktif, namun sisanya seolah merasa tak mampu berprestasi. Namun pada titik tertentu, seseorang memang sudah tak lagi cocok dengan pekerjaan yang dijalani.

Dengan mengambil keputusan tepat, Anda dapat memperbaiki masa depan karir, daripada bertahan di pekerjaan sekarang, tetapi tak lagi merasa senang melakukannya. Anda mungkin saja telah berusaha mengatasinya, tapi tak ada perubahan. Dan pekerjaan tetap saja menyiksa.

Lantas bagaimana Anda mengetahui saat kapan harus mengambil keputusan penting, seperti memperbaharui portofolio dan secara resmi mencari pekerjaan baru? Nah, berikut 5 tanda saatnya Anda perlu mencari pekerjaan baru.

Malas bangun pagi
Apakah Anda kerap didera rasa malas dan ingin kembali tidur di pagi hari? Jika ya, semangat juang Anda pun ikut terkubur dalam selimut tebal, serta menjauh dari target perusahaan, masa tenggat, juga rekan yang makin rajin bekerja.

Ini menunjukkan salah satu tanda ketidakpuasan Anda terhadap pekerjaan saat ini. Tubuh Anda berusaha memberi tahu, Anda sudah kehabisan energi untuk memulai pekerjaan rutin. Tunggu saja saatnya perusahaan mengeluarkan surat peringatan berkenaan dengan masalah produktivitas Anda yang menurun.

Performa dan relasi kerja menurun
Ketika tim kerja atau lingkungan kerja sedang menjadi produktif, bercakap-cakap di sela pekerjaan akan dirasa sebagai masa istirahat atau waktu yang menyenangkan untuk dinikmati.

Jika akhir-akhir ini Anda mulai menghindari tugas, menjauhi beberapa orang tertentu, atau mencari alasan untuk menghindari acara kantor, telaah kembali diri Anda! Hal ini mengisyaratkan Anda mulai kehilangan rasa cinta pada pekerjaan saat ini.

Menjadi orang lain di tempat kerja
Jika Anda merasa tak bisa menjadi diri sendiri dalam lingkungan kerja, seringkali berakting ketika berbicara dengan rekan ataupun atasan, jangan anggap enteng sikap ini! Namun, Anda juga jangan menyalahkan diri sendiri karenanya.

Setiap perusahaan memiliki budaya yang berbeda. Perusahaan mungkin tak memperlakukan Anda sebagai pribadi, melainkan layaknya rekan kerja yang lain. Sehingga Anda tak dapat menolak kuatnya budaya perusahaan dan mulai berlaku seperti rekan kerja yang lain.

Posisi tak sesuai bakat
Kendati seorang manajer, tetapi Anda sebenarnya sangat ingin menjadi juru masak yang handal. Atau, jenis pekerjaan sebagai koordinator tak membuat Anda merasa kreatif dalam pekerjaan. Tak pernah ada kata terlambat untuk mengubah pandangan ke arah yang lebih baru. Demi karir dan kebahagiaan Anda di masa depan, mulailah putuskan segera!

Setiap saat jadi menyebalkan
Seringkali mencoba berdamai dengan perasaan frustrasi, dan menganggapnya sebagai salah satu aspek dalam bekerja. Jika kebanyakan waktu Anda gunakan untuk mengembangkan pikiran negatif dan berkeluh kesah, mungkin sudah saatnya mengakhiri semuanya. Cari karir baru di lingkungan yang membuat Anda merasa diberi penghargaan dan tepat dengan bakat yang dimiliki. Anda bisa, kok, melakukannya!

Butuh Apa Agar Karier Meroket?

Tak perlu iri melihat rekan seangkatan sudah duduk di posisi eksekutif. Asal tahu triknya, Anda juga bisa kok meraih jenjang karier yang diidamkan.

Jangan hanya bersikap pasif menunggu datangnya promosi. Setiap orang seharusnya memiliki target jangka panjang dalam peta kariernya dan aktif mengasah kemampuan agar siap menerima tanggung jawab lebih. Untuk meraihnya, Anda tidak bisa hanya terpaku mengerjakan tugas-tugas rutin di kantor.

Untuk menduduki posisi eksekutif, menurut Linawaty Mustopoh, dari lembaga konsultan Experd, ada dua skill yang perlu dimiliki. Pertama adalah keterampilan yang berkaitan dengan teknik pekerjaan (hard skill). "Hard skill biasanya diperoleh di bangku sekolah," ujarnya.

Yang termasuk dalam hard skill di antaranya adalah pengetahuan dan keterampilan sesuai profesi yang dijalani. Misalnya bila Anda seorang pengacara, tentu Anda harus tahu tentang peraturan, perundangan, serta sertifikasi yang berhubungan dengan profesi. Dengan menguasai skill ini, Anda akan lebih mudah melakukan tugas yang bersifat teknis.

Keterampilan lainnya adalah menguasai bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Ini mutlak diperlukan untuk mendukung karir ke depan. Tidak kalah penting adalah menguasi teknologi. "Tidak sebatas penguasaan program-program komputer tapi teknologi lain yang menunjang karir Anda," papar Lina.

Kenyataannya, langkah karier tidak selalu berjalan sesuai hirarki. Meski Anda sudah lama menduduki jabatan asisten manajer, hanya segelintir orang saja yang berhasil meniti karier hingga level top management. Lalu apa yang membedakan mereka yang berhasil dan yang tidak? "Nah, di sinilah diperlukan soft skill atau dikenal juga dengan emotional intelligence," kata Lina.

Menurut Lina, keberhasilan pada akhirnya tidak semata ditentukan oleh kepintaran saja. "Makin tinggi posisi kita, makin dituntut keterampilan dalam berhubungan dan mengelola orang lain," ujarnya. Dengan kata lain, makin tinggi posisi, makin dibutuhkan soft skill seseorang.

Soft skill yang diperlukan untuk mendukung performa seorang penentu masa depan perusahaan di antaranya adalah keterampilan komunikasi agar bisa menyampaikan atau menjual ide kepada pihak lain (klien, rekan kerja, anak buah, dan atasan). Anda juga harus memiliki kemampuan presentasi, negosiasi, mampu bekerja sama, memiliki kepemimpinan, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mampu membina hubungan dengan orang lain, kemampuan mengembangkan anak buah, serta punya sifat pelayanan pada pelanggan.

"Bila ada dua orang yang memiliki hard skill yang sama, maka yang akan sukses di masa depan adalah yang memiliki soft skill lebih baik," kata Lina. Bila kita membekali diri dengan soft skill, peluang karier, bahkan di posisi lebih tinggi pun terbuka luas. Menurut penuturan Lina, hal ini terutama karena makin tinggi posisi seseorang, makin banyak pula ia berhubungan dengan manusia, yang notabene permasalahannya tidak hanya cukup diselesaikan dengan angka atau fakta.

Jadi, jangan mau karier cuma jalan di tempat. Mantapkan langkah dengan membekali diri dengan dua skill penting itu sejak sekarang.

Saturday, May 16, 2009

Pilih Profesi Berdasarkan Warna Favorit

Penelitian terbaru menunjukkan, dengan menentukan warna primer, sekunder, dan akromatik, yang Anda sukai, Anda bisa menenemukan karir yang tepat berdasarkan cara kerja, lingkungan kerja dan bagaimana Anda menangani tugas dan tanggung jawab.

Bagaimana caranya? Pertama, pilih dulu warna primer yang paling Anda sukai (warna primer misalnya merah, kuning, atau biru). Dari sini Anda bisa memilih warna sekunder (hijau, ungu, atau oranye), dan warna akromatik (hitam,putih, atau coklat). "Warna yang Anda pilih mencerminkan bagaimana Anda menghadapi tiap tugas. Warna itu bisa menunjukkan bakat Anda, apa yang lebih diprioritaskan untuk sukses," kata Dewey Sadka, penulis buku The Dewey Color System.

Jadi, apakah Anda peneliti, pencipta, manajer, pembujuk, pelaksana, atau pembuat jadwal? Ketahui dengan menentukan warna favorit.

Bila Anda suka: kuning, ungu, dan putih: Anda adalah komunikator

Anda memiliki kelebihan di bidang komunikasi. Dengan skill ini Anda jadi pintar mengetahui keinginan klien sehingga punya strategi tepat agar mereka mau mendengarkan ide-ide Anda. Kemampuan Anda berkomunikasi juga menjadi modal Anda untuk mencari jalan keluar dari masalah-masalah. Karir yang tepat untuk si komunikator adalah di bidang marketing, public relation, atau bekerja di bidang agama.

Bila Anda suka: merah, hijau, dan hitam: Anda adalah investor

Anda punya pengetahuan yang baik dalam menilai uang dan tenaga, juga dalam hal melihat kontribusi yang diberikan tiap karyawan. Anda adalah orang yang suportif, dan punya kemampuan analitik. Karir yang tepat adalah di bidang keuangan, akunting, perbankkan, manajemen properti, manufacturing, analasis produksi, investasi, manajemen keuangan, konsultan, sales produk, atau mengajar.

Bila Anda suka: biru, oranye, dan coklat: Anda adalah aktivis

Anda punya kekuatan untuk membuat orang percaya, selain itu Anda juga bukan orang yang mudah percaya pada hal-hal tak logis. Pekerjaan yang cocok untuk Anda adalah pekerjaan yang memiliki dampak sosial serta profesi yang berkaitan dengan meningkatkan mutu sesuatu yang sudah ada. Pertimbangkan untuk berkarir di bidang engineering, pembangungan, atau membuat program, produk, atau perusahaan baru. Anda juga cocok berkarir di bidang sosial, pegawai pemerintahan, serta pelaksanaan hukum.

Dilema Karier, Timbang Dulu Sebelum Memutuskan

Banyak keputusan yang harus dibuat dalam hidup kita, ada yang mudah, namun lebih banyak yang sulit. Tak terkecuali dalam pekerjaan. Tiga situasi berikut kerap menimbulkan dilema, tak tahu harus bersikap bagaimana. Berikut tips Marc Hertz, konsultan karir dari Robert Half International, agar Anda siap jika kelak menemui situasi yang sama.

1. Gaji rekan sekerja lebih tinggi
Tanpa sengaja Anda melihat slip gaji rekan sekerja. Ternyata gaji rekan sekerja yang posisinya selevel dengan Anda jauh lebih besar dari jumlah yang Anda terima tiap bulan.

Yang harus dilakukan:
Tahan keinginan Anda untuk menuntut penjelasan dari atasan saat itu juga. Menemui atasan karena alasan finansial, apalagi berdasarkan informasi yang sifatnya confidential, akan merugikan Anda sendiri.

Gunakan jaringan kerja yang dimiliki untuk mencari informasi mengenai pasaran gaji untuk posisi Anda. Nah, berdasarkan informasi valid di tangan, ditambah dengan daftar prestasi serta kemampuan Anda selama ini, Anda bisa meminta penjelasan pada atasan mengenai perbedaan standar gaji. Tapi ingat, jagalah reputasi Anda. Hindari emosi yang meledak-ledak.

2. Ditawari Pindah Kerja, Tapi Suka Pekerjaan Sekarang
Seorang teman menginformasikan ada lowongan untuk jabatan empuk di kantornya. Ia meminta Anda melamar dan berjanji akan memprioritaskan Anda dengan kompensasi yang lebih tinggi. Anda tergoda, tapi di lain pihak Anda terlanjur mencintai pekerjaan yang sekarang.

Yang harus dilakukan:
Keputusan pindah kerja memang bukan keputusan yang mudah. Galilah informasi lebih dalam lagi dari teman Anda, misalnya mengenai proses penerimaan, peraturan perusahan, jenjang karier, budaya perusahaan, kompensasi lain di luar gaji, dan sebagainya. Sehingga Anda bisa membuat perbandingan.

Taruhlah setelah mendapat informasi Anda masih tertarik. Gunakan kesempatan wawancara untuk mengetahui lebih banyak informasi mengenai jenis tugas dan tanggung jawab yang akan Anda laksanakan. Bisa jadi gaji tinggi mencerminkan beban kerja yang tinggi pula. Dari sini Anda bisa menilai apakah pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kondisi Anda.

3. Kesempatan Mengerjakan Proyek Penting tapi Sulit.
Dalam rapat, atasan menginformasikan adanya sebuah proyek penting dari klien utama perusahaan. Atasan membuka kesempatan pada siapa saja untuk memimpin proyek ini. Sebenarnya ini merupakan tantangan yang menarik karena bila berhasil, maka karir Anda bisa terdongkrak. Tapi Anda tahu benar si klien adalah pihak yang sulit dan sangat perfeksionis.

Yang harus dilakukan:
Bila selama ini Anda berambisi untuk meraih posisi lebih tinggi, tak perlu ragu memanfaatkan kesempatan emas yang terbuka di depan mata. Tetapi sebelumnya tanyakan dulu pada diri sendiri apakah Anda mampu dan mau mengerjakan tanggung jawab yang lebih besar di luar job desk Anda sekarang.

Bila Anda merasa kurang optimis bisa memimpin proyek ini, bicarakan pada atasan kemungkinan Anda untuk bergabung dalam tim. Mintalah bagian penting dalam tim sehingga Anda bisa menunjukkan kemampuan sekaligus memaksimalkan skill.

Thursday, May 14, 2009

Kebiasaan yang Mengancam Karir

Mungkinkah sebatang rokok bisa merugikan karir? Mungkin saja. Selain kebiasaan merokok, menurut situs Yahoo HotJobs ada beberapa kebiasaan yang bisa mengancam posisi Anda di kantor.

1. Gaya hidup tidak sehat
Merokok, hobi mabuk-mabukan, serta kebiasaan makan secara berlebihan termasuk dalam gaya hidup yang bisa merugikan karir. Apa pasal? Sekarang perusahaan lebih memilih karyawan yang sehat jiwa dan badannya karena bisa menghemat anggaran kesehatan perusahaan.

2. Suka ngambek
Gampang ngambek, apalagi tanpa alasan yang jelas, menunjukkan bahwa sebenarnya Anda belum dewasa dan belum siap memasuki dunia kerja. Jadi, meski atasan kerap membuat Anda kesal, tahan diri untuk tidak bersikap emosional. Bila ada kesempatan yang tepat, Anda bisa mengungkapkan perasaan dengan cara yang bijak sehingga Anda tetap dinilai profesional.

3. Ngaret
Jauhkan sikap tidak disiplin dari kamus Anda. Berusahalah untuk menepati hal-hal yang sudah disepakati bersama, misalnya jam masuk kerja, waktu rapat, termasuk juga saat menyerahkan laporan pekerjaan. Sikap disiplin mencerminkan komitmen yang tinggi dan tanggung jawab.

4. Malas membaca koran
Kebanyakan wanita lebih suka membaca majalah dan tabloid gosip. Padahal, dengan mengetahui isu-isu terbaru yang sedang hangat, wawasan Anda akan bertambah. Keputusan dan kebijakan perusahaan juga kerap dibuat berdasarkan fenomena yang sedang terjadi di masyarakat, seperti kenaikan BBM misalnya.

5. Malas bergaul
Meski tumpukan pekerjaan menghadang luangkanlah waktu untuk bergaul dan bersosialisasi. Berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai kalangan akan menambah jejaring yang pastinya akan berguna bagi pekerjaan.

Jadi, tunggu apa lagi? Segera ubah kebiasaan buruk anda. Sekarang Juga!

Cemburu, Racun Bagi Karir

Rasa cemburu bukan hanya muncul pada hubungan asmara, tapi juga dalam hubungan kerja. Ketika posisi yang sudah lama Anda incar jatuh ke tangan orang lain, serta merta cemburu menguasai diri Anda. Begitu pula saat kita sedang sukses, bukan tak mungkin Anda menjadi sasaran kecemburuan rekan sekerja.

Bila tak diatasi, rasa cemburu bisa membuat hari-hari di kantor berubah menjadi beban yang menyebalkan. "Kecemburuan bisa jadi racun bagi karir. Jika Anda mengakui bahwa Anda cemburu, Anda bisa mulai mengatasinya," kata Johanna Rothman, penulis buku Behind Closed Doors: Secret of Great Management. Tak ingin rasa cemburu menghalangi kemajuan karir? Pertimbangkan tips berikut:

Jika Anda Cemburu
* Kumpulkan catatan prestasi
"Buat catatan prestasi Anda setiap bulannya. Ketika saya melakukan hal ini, saya menyadari bahwa kesuksesan yang didapat orang lain memang karena prestasinya. Dari catatan prestasi saya, kadangkala kita sadar bahwa kita tak cukup perform sehingga belum siap jadi manajer," papar Rothman.

* Bicarakan dengan atasan
Beredar gosip di kantor kemungkinan mutasi manajer Anda ke kantor cabang. Anda bisa mencoba bicara dengan atasan. Bawa catatan prestasi yang telah disumbangkan selama menjabat sebagai asisten manajer dan tanyakan kemungkinan Anda untuk menduduki posisi tersebut.

* Tingkatkan kemampuan
Daripada bersungut-sungut di belakang karena kecewa tak mendapat promosi lebih baik pelajari kemampuan apa yang belum Anda miliki untuk menjadi kandidat manajer. Tak ada salahnya berdiskusi dengan manajer yang baru bagaimana cara meningkatkan skill Anda. Perkaya wawasan dengan mengikuti pelatihan atau memiliki mentor yang tepat.

Jika Anda Dicemburui
* Tetaplah rendah hati
"Terkadang bukan kedekatan dengan pucuk pimpinan, gaji dan fasilitas, atau kenaikan jabatan yang membuat orang lain cemburu dan kesal, tapi lebih pada bagaimana cara kita bersikap," ujar Rothman. Jadi, sebagai pemimpin pemula Anda tak perlu mengubah sikap secara drastis, misalnya tetaplah bergaul seperti biasa dengan rekan-rekan kerja yang lain. Yang harus diingat adalah jangan membocorkan rahasia perusahaan.

* Jangan minta maaf
Memang Anda perlu bersikap rendah hati, tapi jangan merendahkan diri. Anda tak perlu meminta maaf kepada rekan-rekan kerja lain karena Anda terpilih untuk menduduki posisi atasan. Bersikaplah profesional. Seorang pimpinan yang ideal harus mampu menyeimbangkan antara tugas dan hubungan personal.

* Bawahan sebagai partner
Atasan yang baik harus mau mendelegasikan tugas kepada bawahan dan memberikan contoh. Pandang bawahan sebagai partner untuk mencapai kemajuan perusahaan. Bila mencapai keberhasilan apalagi jika itu karena hasil kerja tim, jangan pernah mengakui itu sebagai prestasi pribadi.

sumber:kompas.com

Tuesday, May 12, 2009

Karir Mentok? Saatnya Melakukan Rebranding

Ingin sukses dalam pekerjaan? Bosan selalu jadi the invisible di kantor? Sudah saatnya Anda memaksimalkan daya jual dengan cara melakukan re-branding.

Seperti halnya sebuah produk yang penting, diri kita pun harusnya memilliki brand (citra) yang baik. Kalau selama ini brand yang melekat terlanjur biasa-biasa saja, maka Anda perlu merombak dan memperbaikinya.

Menurut Handito Hadi Joewono, dari Branding Indonesia, peran brand sangat penting bagi setiap orang, khususnya para karyawan. Antara lain membuat kita mudah dikenal dan bisa membangun citra perusahaan.

"Makin baik brand kita, makin luas networkingnya, kita bisa menjadi ambassador perusahaan, Pada akhirnya akan meningkatkan kepuasan pelanggan pada perusahaan," papar Hadi.

Dengan kata lain, jika memiliki brand yang baik kita tak hanya makin dikenal tapi juga ikut berkontribusi pada perusahaan dalam hal pencapaian visi dan misi perusahaan. Hal ini tentu saja akan meningkatkan daya jual kita sehingga perusahaan akan melihat kita sebagai aset yang berharga. Ujung-ujungnya tentu saja kompensasi yang sesuai, baik berupa kenaikan jabatan atau gaji.

Untuk melakukan re-branding, menurut Hadi ada beberapa langkah yang perlu kita lakukan, yakni:
1. Perumusan
Pada langkah pertama ini kita perlu menentukan positioning yang ingin kita pilih. Maksudnya kita tentukan persepsi yang ingin orang lihat pada diri kita. Misalnya saja si pekerja keras, si suka membantu, dan sebagainya.

2. Brand Identity
Menentukan identitas berarti kita perlu memilih simbol-simbol yang konsisten sehingga identitas ini akan melekat pada diri kita. Simbol yang dimaksud di sini ada yang berupa fisik atau penampilan yang menjadi ciri khas, misalnya selalu mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung.

Ada pula simbol yang non fisik, misalnya karakter atau perilaku, seperti humoris atau smart. Simbol non fisik juga termasuk nama panggilan. "Tentukan nama panggilan kita yang mudah diingat dan dikenal," saran Hadi.

3. Komunikasikan
Setelah menentukan positioning dan brand identity, terakhir adalah mencari cara jitu untuk mempromosikan brand kita, baik di kantor atau di luar kantor. Hal ini bisa dimulai dari hal sederhana, semisal selalu menyebutkan nama kita saat bertemu klien. Layaknya sebuah produk, ia akan makin dikenal jika terus diiklankan.

sumber: kompas.com

Monday, May 11, 2009

Agar Gaji Tidak Cepat Habis

Easy come, easy go. Mungkin itulah slogan yang bisa menggambarkan tentang aliran uang. Rasanya baru gajian minggu lalu, kok minggu ini sudah habis? Diperlukan komitmen dan disiplin diri yang tinggi untuk bisa menabung dan tidak menghamburkannya begitu saja. Terlebih lagi jika Anda mesti menabung banyak uang untuk hal-hal yang ingin dilakukan dalam waktu dekat, misalnya pernikahan, kelahiran anak, dan lainnya. Berikut adalah tips yang bisa Anda lakukan untuk merencanakan aliran uang Anda tetap dalam jalur yang diinginkan.

*Selalu berpikir jauh ke depan! Buatlah daftar pengeluaran cukup besar yang harus Anda penuhi di masa depan. Misalnya; pernikahan, hari kelahiran anak, liburan, atau kuliah lagi. Anda bisa merencanakan sebuah prosedur tabungan khusus untuk hal ini, contohnya menyiapkan tabungan di bank yang ditarik secara otomatis dari tabungan yang selalu dimasukkan gaji per bulannya.

*Buat perencanaan keuangan khusus untuk bulan dan tahun ke depan, sementara buat perhitungan pemasukan dan pengeluaran rata-rata per bulan Anda. Juga lihat pos-pos keuangan yang bisa Anda kurangi pengeluarannya. Misalnya, buatlah batasan jika tagihan telepon Anda membeludak, dan kurangi intensitas menelepon. Atau, jika Anda memiliki kecenderungan membeli setidaknya 1 baju atau 1 pasang sepatu tiap bulan, buat album koleksi pakaian dan sepatu Anda untuk memastikan dan meyakinkan diri bahwa Anda memiliki cukup pakaian yang bisa dipadupadankan tanpa perlu membeli terus-menerus.

*Simpan bon dan kuitansi yang Anda terima. Baik itu pembayaran pulsa telepon di ATM, atau ongkos makan siang, lalu simpan dan hitung lagi pengeluaran Anda per harinya. Lalu bayangkan, apakah semua pengeluaran Anda itu cukup berarti? Atau masih bisa ditekan lagi? Mungkin Anda bisa mencari alternatif dari masing-masing pengeluaran tersebut. Mungkin dengan mencari makan siang di kantin saja, ketimbang ke foodcourt bersama teman-teman lain. Atau mungkin naik ojek saja ketimbang naik taksi jika jarak dari kantor Anda ke kantor klien tak terlalu jauh. Potongan kecil tapi sering bisa menjadi amat berarti jika dihitung per tahun.

*Hindari godaan! Ini dia yang paling sulit dihindari para wanita. Ingatlah: Hanya karena di mal sedang ada diskon besar-besaran, tak berarti Anda memerlukannya. Pikirkan masak-masak, apakah Anda akan benar-benar memerlukan barang yang akan Anda beli tersebut? Apakah sangat krusial? Apakah akan Anda gunakan?

*Menabunglah, tapi jangan lupa untuk memberikan "hadiah" pada diri Anda ketika tujuan Anda sudah terpenuhi. Buat target nilai tabungan Anda, lalu berikan hadiah jika sudah mencapai target tersebut.

*Simpan dan catat segala hal yang berkaitan dengan keuangan Anda. Jika bank mengirimkan catatan keuangan Anda, simpan. Jangan dibuang, apalagi jika tercantum nama lengkap dan data diri lainnya. Hal ini sekaligus untuk menghindari penipuan ataupun pencurian identitas.

*Bahkan berlibur pun akan butuh biaya. Maka, tak ada salahnya untuk mulai menabung, ketimbang meminjam uang yang Anda tak tahu kapan bisa membayarnya kembali.

Kematangan Pribadi Dalam Memimpin di Masa Krisis

Dalam pandangan dan pikiran kebanyakan orang, ”kematangan pribadi” ditandai dengan keberanian memasuki jenjang perkimpoian, punya penghasilan sendiri serta lepas dari bimbingan orang tua. Namun terutama dalam situasi menekan, kritis dan berisiko, kita sendiri kemudian dapat menyadari ataupun menyaksikan bahwa tanggapan individu sering menunjukkan ketidakdewasaan.

Seorang atasan bisa saja “mengecilkan” harga diri bawahannya sedemikian rupa, sebagai salah satu cara untuk menyelamatkan posisi dan jabatannya, sehingga setiap individu yang menyaksikan kejadian tersebut bisa melihat bahwa sang atasan-lah yang tidak bijaksana.
Seorang profesional pun bisa tidak mengakui kesalahan yang dibuat, bahkan menuding orang lain yang perlu bertanggung jawab atas kesalahan yang dibuatnya. Artinya disini kita bisa menyimpulkan bahwa tidak bijaksananya individu disebabkan karena ia belum mencapai tingkat kematangan yang diharapkan baik oleh lingkungan maupun oleh dirinya sendiri. Kenyataan yang perlu kita simak bersama adalah bahwa kematangan itu tidak diturunkan dan bukan bawaan dari lahir. Tetapi benar-benar dipelajari dan dilatih dengan sepenuh hati. Walaupun seorang yang sudah berangkat matang, tapi akhirnya kemudian kematangannya bisa merosot karena berada di lingkungan yang bobrok.

Salah seorang pakar Psikologi Kepribadian mendeskripsikan lima persyaratan tentang kematangan pribadi yaitu berpikir obyektif, berpikir positif, mampu mengendalikan dan menyalurkan emosi, bertanggung jawab serta mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relative panjang. Kemudian disebutkan : “Maturity is humility.It is being big enough to say “I was wrong”. And when right, the mature person need to experience the satisfaction of saying, “I told you so””.

Dalam proses pemilihan kandidat pemimpin eksekutif atau pejabat tertentu sering dilakukan “fit and proper test”. Hal ini dilakukan dengan melihat kematangan pribadi sebagai kriteria utama dalam pemilihan calon pemimpin tersebut. Ditemukan bahwa banyak kandidat yang pintar-pintar, namun justru yang dicari adalah pemimpin yang punya ciri kematangan yang disebutkan di atas. Dari pengamatan sehari-hari jelas bahwa ketidakmatangan yang disebutkan ini sering terlihat pada ketidakberanian pemimpin tersebut untuk mengambil keputusan, memaksakan pendapat, meng-”abuse” kekuasaan, serta ketidakmampuan membina hubungan antar manusia secara fair dan bertanggung jawab. Dan indikasi yang ditemukan adalah pernyataan dari orang lain yang bisa mencerminkan tingkat kematangan pimpinannya misalnya :”Bapak Joke mengambil keputusan yang sangat tidak bijaksana dalam mengelola masalah bisnis kita. Setelah lama menjabat , tetap tidak ada perbedaan yang atau perbaikan yang berarti dihasilkan buat organisasi kita”. Dan terlihat dari efek yang timbul adalah ketidakharmonisan dan juga kinerja yang tidak optimal di kalangan individu dalam organisasi tersebut.

Dari kenyataan ini, kita bisa belajar bahwa pada dasarnya pendidikan dan kepintaran tidak selamanya berhubungan langsung dengan kematangan pribadi, terutama kalau individu mengembangkan fungsi-fungsi di dalam dirinya secara berat sebelah, misalnya saja banyak berpikir tanpa mengembangkan kepribadian dalam kehidupan seharihari di organisasi. Sering ditemukan dalam kesehariaan di organisasi perusahaan bahwa kenyamanan lingkungan kerja dapat menyebabkan orang tidak berani keluar dari lingkungan tersebut, memelihara sikap kebal dan pengecutnya, bahkan mengembangkan dirinya menjadi pribadi yang tidak matang. Sosok pribadi tersebut hanya melakukan prinsip “play not to loose”, bukannya “play to win”.

Tumpulnya kesadaran yang dipelihara sering menyebabkan ketidakmampuan individu untuk berdialog dengan hati nurani atau kata hatinya , sehingga ia kehilangan kacamata objektif dan positifnya dan memang dibutakan dari realitas yang sebenarnya.

Salah satu sifat ksatria yang dimiliki oleh budaya Jepang di zaman para samurai adalah tindakan “hara-kiri” (bunuh diri demi kehormatan). Di zaman modern seperti sekarang ini budaya tersebut tentunya bisa tampil dalam bentuk yang lebih elegan untuk tampil sebagai seorang ksatria yaitu : “Shame and Guilt”, alias malu dan bersalah, seperti tindakan yang bertanggung jawab atau bahkan mengundurkan diri dari seorang pejabat atau pemimpin atas kejadian yang dilakukannya atau dibawah pimpinanannya yang telah merugikan orang lain, perusahaan atau negaranya.

Introspection Moment

Berbeda dengan prestasi yang langsung terukur (misalnya: pencapaian sales performance, peningkatan penguasaan pangsa pasar, peraihan aspek keuangan yang baik dan sebagainya), individu memang tidak bisa “pamer kematangan”dengan mudah, tetapi harus membuktikannya dengan tindakan yang teruji dari waktu ke waktu. Sikap objektif, positif, bertanggungjawab dan matang emosi hanya bisa ditakar dalam hati.

Bila seorang pimpinan ingin bersikap tulus, bijaksana, adil, jujur dan seimbang dalam memberikan arahan dan mendengar masukan dari orang lain, maka ia perlu menyelesaikan pergulatan dan konflik internalnya di dalam hati sendiri (vested interest) dengan “corporate values” dan selalu berusaha untuk memelihara harmonisasi dalam penyelesaian konflik tersebut dengan bijaksana.

Tidak dapat disangkal di lingkungan organisasi kita ini banyak orangorang pintar dengan pemikiran dan keahlian yang luar biasa, tinggal tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita bisa menjadi pemimpin atas diri masing-masing dengan menjadi individu yang memiliki pribadi matang. Sudah bisa dibayangkan fenomena ini akan menjadi “Flywheel Effect” yang bisa menjadi energi luarbiasa buat organisasi kita khususnya untuk bisa “survive in crisis mode” saat ini.

Friday, May 1, 2009

Pentingnya Persepsi

Dahulu kala ada 2 orang kakak beradik. Ketika ayahnya meninggal
sebelumnya berpesan dua hal:
pertama jangan menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu,
dan kedua jika mereka pergi dari rumah ke toko jangan sampai mukanya terkena sinar matahari.

Waktu berjalan terus. Dan kenyataan terjadi, bahwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal anak yang sulung bertambah kaya sedang yang bungsu menjadi semakin miskin. Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka. Jawab anak yang bungsu: Inilah karena saya mengikuti pesan ayah.

Ayah berpesan bahwa saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, dan sebagai akibatnya modalku susut karena orang yang berhutang kepadaku tidak membayar sementara aku tidak boleh menagih.
Juga ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya saya harus naik becak atau andong. Sebetulnya dengan jalan kaki saja cukup,tetapi karena pesan ayah demikian maka akibatnya pengeluaranku bertambah banyak.

Kepada anak yang sulung yang bertambah kaya, ibupun bertanya hal yang sama. jawab anak sulung: Ini semua adalah karena saya mentaati pesan ayah. Karena ayah berpesan supaya saya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, maka saya tidak menghutangkan sehingga dengan demikian modal tidak susut.Juga ayah berpesan agar supaya jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko tidak boleh terkena sinar matahari,
maka saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam.

Akibatnya toko saya buka sebelum toko lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup.Sehingga karena kebiasaan itu, orang menjadi tahu dan tokoku menjadi laris ,karena mempunyai jam kerja lebih lama.

Bagaimana dengan anda?

Kisah diatas menunjukkan bagaimana sebuah kalimat di tanggapi dengan presepsi yang berbeda
jika kita melihat dengan postif attitude maka segala kesulita sebenarnya dalah sebuah perjalanan membuat kita sukses
tetapi kita bisa juga terhanyut dengan adanya kesulitan karena rutinitas kita .. pilihan ada di tangan anda.

Berusaha melakukan hal biasa yang dikerjakan dengan cara yang luar biasa..

Dikutip dari kaskus

Friday, April 17, 2009

KERJA IKHLAS = KERJA BODOH ?

Dikutip dari sebuah milis.

Di jaman yang hampir semua hal diukur dengan materi, kerja ikhlas menjadi
hal yang langka. Pelakunya pun kerap disebut orang aneh, orang antik atau
orang yang melakukan hal bodoh. Kebanyakan orang di jaman ini memang bekerja
dengan "tulus" tetapi tidak ikhlas!

"Lho, apa bedanya Pak?", tanya para mahasiswa yang mengikuti kuliah atau
seminar saya. Saya sering menjawab,"Tulus adalah singkatan dari TUjuannya
fuLUS". Jadi bekerja karena motivasinya adalah untuk mendapatkan uang. Jika
mendapatkan uang banyak maka bekerja keras dengan sangat baik, tetapi jika
mendapat uangnya sedikit maka kerjanya asal saja. Hal inilah yang dilakukan
oleh kebanyakan orang. Bekerja untuk memperoleh imbalan yang setimpal dengan
pekerjaan menurut ukurannya masing-masing.

Tetapi jika bekerja dengan hati ikhlas, berarti bekerja dengan berdasarkan
kasih dan kerelaan hati. Seperti matahari pagi yang selalu rajin tidak
pernah terlambat selalu bersinar dan tidak pernah mengharapkan imbalan atau
balasan kembali. Matahari juga tidak peduli apakah manusia mau menerima
sinarnya atau bahkan menolaknya.

Sebuah kisah nyata yang diceritakan oleh seorang teman saya terjadi di
Bandung beberapa waktu yang lalu. Kisah nyata ini dapat dijadikan suatu
bahan renungan tentang keihklasan hati dalam bekerja.

Seorang mahasiswa yang baru lulus menjadi sarjana kedokteran di sebuah
perguruan tinggi negeri terkenal di Bandung memilih untuk bekerja menjadi
asisten laboratorium di almamaternya. Penghasilan yang diterimanya sebagai
asisten lab sangatlah kecil, bahkan tidak mencukupi walau pun hanya untuk
membayar biaya transportasi ke kampusnya. Tetapi dia mencintai pekerjaan
menjadi asisten dan melakukannya dengan ikhlas karena memang mencintai
pekerjaan mengajar.

Banyak orang yang mengatakan bahwa dia bodoh karena memilih bekerja menjadi
asisten lab. Padahal sebagai sarjana kedokteran dari universitas negeri
terkenal, dia memiliki peluang besar untuk bekerja di perusahaan swasta yang
memberikan penghasilan berpuluh-puluh kali lebih besar.

Walau orang tuanya pun mendesaknya untuk mencari pekerjaan lain, dia tetap
memilih membantu almamaternya menjadi asisten lab. Semua hal itu dilakukan
dengan hati yang ikhlas. "Pekerjaan ini membahagiakan hati saya", katanya.

Suatu saat datanglah seorang profesor dari Jepang berkunjung ke universitas
tersebut. Karena semua dosen sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing,
maka ditugaskanlah asisten lab tersebut untuk menemani dan membantu sang
profesor selama berada di Bandung.

Asisten tersebut bisa saja menolaknya karena hal itu bukanlah tugasnya
sebagai asisten lab. Dia tidak dibayar untuk hal itu. Tetapi dia memilih
untuk tetap menerima tugas itu dengan hati yang ikhlas dan berusaha membantu
sebisanya tanpa mengeluh.

Walau pun sama sekali tidak bisa berbahasa Jepang, dia berusaha sebaik
mungkin membantu sang profesor. Mengantarnya mencari makanan untuk makan
siang dan makan malam, berbelanja oleh-oleh Bandung, berkunjung ke Gunung
Tangkuban Perahu, dan tempat-tempat wisata lainnya. Dia selalu mengantar ke
mana pun sang profesor ingin pergi dengan tersenyum.

Setiap hari dia menjemput sang profesor dan mengantarkannya kembali ke hotel
tempat sang profesor menginap. Sampai saatnya profesor itu kembali ke
Jepang, sang profesor memberikan jam tangannya kepada asisten lab tersebut
sebagai tanda terima kasih. Hati sang Profesor sangat tersentuh dengan
keramahan dan keikhlasan hati asisten lab yang telah membantunya selama
berada di Bandung.

Beberapa tahun kemudian, sang profesor telah terlupakan dalam ingatan
asisten lab tersebut. Dan dia masih bekerja masih bekerja ikhlas sebagai
asisten di universitas tersebut. Hingga datanglah sebuah kesempatan beasiswa
belajar kedokteran sampai jenjang S-3 dari sebuah universitas di Jepang bagi
akademisi di universitas negeri di Bandung tersebut.

Dosen-dosen yang lebih senior segera mengirimkan aplikasi permohonan
beasiswa ke universitas di Jepang tersebut. Tetapi ternyata oleh universitas
di Jepang yang memberi beasiswa tersebut semuanya ditolak!

Ternyata sang Profesor di universitas Jepang itu yang menolaknya. "Saya
hanya mau menerima dan merekomendasikan anak muda yang dulu pernah
antar-antar saya selama saya di Bandung!", katanya dengan tegas.

Akhirnya sang asisten lah yang mendapatkan kesempatan untuk meneruskan
kuliah dengan beasiswa di Jepang. Dia melampaui dosen-dosennya yang lebih
senior untuk mendapat kesempatan kuliah lebih tinggi. Kabar terakhir yang
saya terima, saat ini dia masih sedang menyelesaikan kuliah S-3
kedokterannya di Jepang.

Dari kisah nyata itu saya berkesimpulan bahwa kerja ikhlas bukanlah kerja
bodoh, melainkan kerja yang sangat pintar!

Walau pun dengan bekerja ikhlas kita tidak dipedulikan atasan kita, orang
disekitar kita, atau tidak dipedulikan orang lain... tetaplah bekerja dengan
x-tra kerja ikhlas! Faktor X ke tiga dalam fondasi kesuksesan seseorang. 

Ingatlah! Bahwa walau pun semua orang di dunia tidak peduli dan menutup mata
terhadap apa pun keikhlasan yang kita perbuat, tetapi Tuhan akan selalu
peduli dan tidak akan menutup mata Nya kepada keikhlasan hati kita.

Di saat yang TEPAT Dia akan memanggil malaikat Nya, "Kat, Kat,
malaikat...kasih BERKAT untuk orang yang ikhlas itu".

Salam Ikhlas dimanapun anda berada...