Sunday, August 30, 2009
Mengatasi Rasa Jenuh di Kantor
Bila dilihat kembali secara jernih, inti permasalahannya memang ada pada diri Anda sendiri, yang sudah kehilangan gairah dalam pekerjaan. Masalah semacam ini, menurut Anny Nursani, konsultan sumber daya manusia dari Iradat konsultan, merupakan hal yang wajar terjadi. ”Sebetulnya masalah jenuh ini bisa dialami siapa saja. Baik orang yang bekerja maupun tidak, yang menduduki jabatan tinggi atau rendah, dan seterusnya,” ungkap Anny.
Anny menyarankan agar mencari tahu dan menyelesaikan kejenuhan yang terjadi sebelum menimbulkan permasalahan yang lebih dalam lagi.
Cari tahu penyebab
Anda perlu mengidentifikasi masalah mana yang sebenarnya menyebabkan Anda jenuh. Jika pekerjaan menuntut Anda selalu mengerjakan hal yang sama setiap hari berulang kali, wajar jika terjadi kejenuhan. Pekerjaan yang tak menimbulkan tantangan, seringkali membuat Anda jadi tak mampu berinovasi.
Jenuh juga bisa dipicu oleh lingkungan kerja yang begitu-begitu saja. Misalnya mendiami ruangan kerja yang tak ada perubahan, baik dari segi tata letak maupun dekorasi. Orang yang overqualified akan merasa tak tertantang dengan pekerjaan yang terlalu mudah. Begitu juga dengan orang yang sulit beradaptasi dengan tugas yang terlalu berat, akan merasa lelah dengan beban dan tanggung jawab yang diberikan.
Selain yang bersifat interpersonal, jenuh juga bisa dipicu hubungan antarpersonal yang dikembangkan dalam lingkungan kerja. Jika di lingkungan pekerjaan kerap ditemui konfrontasi yang tak kondusif, atasan yang kerap bersilang pendapat, instruksi atau strategi organisasi yang tak pernah sampai ke bawahan, dan sebagainya juga bisa menimbulkan kejenuhan. Namun, jika suasana bekerja kondusif dan pekerjaan juga sudah cukup variatif, tetapi Anda tetap merasa jenuh dengan pekerjaan, kemungkinan jenuh bisa timbul akibat hilangnya makna pekerjaan itu sendiri.
Bisa jadi selama ini Anda hanya bekerja karena sebab lain, seperti alasan desakan ekonomi, suami tak bekerja, dan lainnya, Anda pun bekerja bukan karena ingin mengaktualisasikan diri, tetapi sekadar terpaksa oleh kondisi. Hal semacam ini membuat Anda lama-lama kehabisan energi untuk menjadi produktif, karena tujuan bekerja bukan untuk diri sendiri.
Tak harus ganti pekerjaan
Mengetahui diri mulai kehilangan gairah dalam bekerja, bukan lantas harus mengganti pekerjaan. Cari tahu dulu, Anda jenuh karena apa? Jika masalahnya adalah pekerjaan yang terlalu rutin, Anny menyarankan untuk sesekali melakukan variasi kecil dalam pekerjaan.
Anda bisa memanfaatkan beberapa menit untuk beristirahat setelah berjam-jam di depan komputer, misalnya berbincang dengan rekan satu ruangan sejenak. Anda bisa membahas hal-hal lain yang lebih santai seperti bertukar informasi belanja, membicarakan Si Kecil, menanyakan di mana ia membeli aksesori, dan lainnya.
Sedangkan untuk mengatasi jenuh yang disebabkan lingkungan fisik kantor, bisa dengan menata ulang meja kerja. Meletakkan benda-benda yang berhubungan dengan hobi di sudut meja, bisa memberi nuansa berbeda. Anda yang bekerja di dunia kreatif juga bisa menata ulang jadwal maupun prioritas sehari-hari. Seorang salesman yang selalu datang pagi ke kantor, mengunjungi klien lalu kembali ke kantor, bisa mengubah rute perjalanannya. Misalnya, dari rumah Anda bisa langsung mengunjungi klien dengan rute yang lebih efisien.
Jika Anda memahami kejenuhan disebabkan hilangnya makna bekerja, perlu menata ulang makna pekerjaan. ”Umumnya, pekerjaan yang sesuai dengan minat tak akan mudah menimbulkan kejenuhan,” papar Anny.
Ikuti prosedur
Kadangkala, masalah kejenuhan tak bisa diselesaikan sendiri dengan mengubah mindset, kebiasaan, atau dekorasi meja kerja. Misalnya, kejenuhan yang disebabkan oleh sistem yang tak berjalan baik, konfrontasi yang sering terjadi, maupun disebabkan gap antara kompetensi diri dan persyaratan jabatan.
Tentunya tak bisa menggunakan otoritas Anda sendiri untuk menyelesaikannya bukan? Jika demikian, coba upayakan belajar dari pengalaman rekan yang lebih senior. Bagaimana mereka menerima semua kondisi dan bertoleransi dengan sistem yang sudah berjalan.
Jika Anda merasa semua mulai mengganggu performa kerja, ada baiknya bicarakan dengan atasan langsung apa yang dirasakan. Jangan lupa, kemukakan solusi yang diinginkan agar masukan Anda tak disalahpahami atasan. Selamat berintrospeksi!
Friday, May 22, 2009
Menjawab Pertanyaan Sulit Saat Wawancara
Pertanyaan "masa depan"
Salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam sebuah wawancara adalah bagaimana peta karir kita di masa datang. Misalnya saja, "di mana Anda lima tahun mendatang?".
Menurut Caroline Levchuck, konsultan karir dari Yahoo!HotJobs, untuk menjawab pertanyaan seperti itu, pilih untuk mengungkapkan kelebihan Anda. Jangan memberikan detil rencana karir Anda, namun diskusikan hal-hal yang menurut Anda penting untuk meningkatkan kinerja dan profesionalisme dan apa rencana Anda untuk mencapainya.
Pertanyaan "gaji"
Tidak mungkin sebuah perusahaan merekrut karyawan tanpa bertanya atau mengetahui gaji yang akan diberikan. Banyak orang yang takut untuk menyebutkan nilai nominal tertentu untuk permintaan gajinya. Padahal mengatakan, "terserah atau mengikuti standar gaji di sini," juga bukan jawaban yang mencerminkan profesionalitas.
Bila Anda ditanya gaji yang diminta, cobalah untuk membelokkan pertanyaan dengan mencari keterangan mengenai standar gaji yang berlaku untuk posisi yang akan Anda masuki. Bila si penanya tetap meminta Anda menyebutkan angka, berikan jawaban berupa kisaran angka. Untuk menemukan kisaran yang tepat, pikirkan jumlah gaji yang Anda inginkan, gaji Anda sekarang dan standar gaji di pasaran untuk posisi Anda. Pertanyaan mengenai gaji termasuk hal penting, karena itu persiapkan jawabannya dengan baik.
Pertanyaan "mengapa"
Ada perbedaan besar antara pede dan membual. Bila Anda ditanya mengapa mereka harus menerima Anda, maka jawablah dengan jujur dan percaya diri tentang keterampilan dan kelebihan Anda. Tapi hindari bicara terlalu berlebihan atau membual.
Mungkin awalnya agak sulit membicarakan kelebihan diri sendiri, karena itu jangan segan berlatih. Sambil berkaca di depan cermin, katakan, "Saya orang yang bertanggung jawab, berintegritas, punya jaringan yang luas. Saya selalu gigih mencapai tujuan saya,", dan kelebihan-kelebihan lainnya.
Pertanyaan "aneh"
Banyak pertanyaan tak terduga dan mungkin terdengar aneh, dalam sebuah wawancara. Misalnya saja, pertanyaan "jika Anda pohon, maka pohon apakah Anda?", atau binatang, atau mobil. Jawaban dari pertanyaan ini akan memberikan gambaran bagi si penanya untuk mengetahui kepribadian calon karyawan, termasuk juga motivasi serta kekuatannya.
Bila Anda diberi pertanyaan seperti ini, jangan panik. Tarik napas dan tenangkan diri sebelum menjawabnya. Ingatlah bahwa tidak ada jawaban "benar atau salah" untuk pertanyaan ini. Terkadang pertanyaan ini juga dilontarkan untuk melihat reaksi Anda dan bagaimana Anda mengatasi hal-hal tak terduga.
Monday, May 18, 2009
5 Tanda Anda Harus Ganti Pekerjaan
Dengan mengambil keputusan tepat, Anda dapat memperbaiki masa depan karir, daripada bertahan di pekerjaan sekarang, tetapi tak lagi merasa senang melakukannya. Anda mungkin saja telah berusaha mengatasinya, tapi tak ada perubahan. Dan pekerjaan tetap saja menyiksa.
Lantas bagaimana Anda mengetahui saat kapan harus mengambil keputusan penting, seperti memperbaharui portofolio dan secara resmi mencari pekerjaan baru? Nah, berikut 5 tanda saatnya Anda perlu mencari pekerjaan baru.
Malas bangun pagi
Apakah Anda kerap didera rasa malas dan ingin kembali tidur di pagi hari? Jika ya, semangat juang Anda pun ikut terkubur dalam selimut tebal, serta menjauh dari target perusahaan, masa tenggat, juga rekan yang makin rajin bekerja.
Ini menunjukkan salah satu tanda ketidakpuasan Anda terhadap pekerjaan saat ini. Tubuh Anda berusaha memberi tahu, Anda sudah kehabisan energi untuk memulai pekerjaan rutin. Tunggu saja saatnya perusahaan mengeluarkan surat peringatan berkenaan dengan masalah produktivitas Anda yang menurun.
Performa dan relasi kerja menurun
Ketika tim kerja atau lingkungan kerja sedang menjadi produktif, bercakap-cakap di sela pekerjaan akan dirasa sebagai masa istirahat atau waktu yang menyenangkan untuk dinikmati.
Jika akhir-akhir ini Anda mulai menghindari tugas, menjauhi beberapa orang tertentu, atau mencari alasan untuk menghindari acara kantor, telaah kembali diri Anda! Hal ini mengisyaratkan Anda mulai kehilangan rasa cinta pada pekerjaan saat ini.
Menjadi orang lain di tempat kerja
Jika Anda merasa tak bisa menjadi diri sendiri dalam lingkungan kerja, seringkali berakting ketika berbicara dengan rekan ataupun atasan, jangan anggap enteng sikap ini! Namun, Anda juga jangan menyalahkan diri sendiri karenanya.
Setiap perusahaan memiliki budaya yang berbeda. Perusahaan mungkin tak memperlakukan Anda sebagai pribadi, melainkan layaknya rekan kerja yang lain. Sehingga Anda tak dapat menolak kuatnya budaya perusahaan dan mulai berlaku seperti rekan kerja yang lain.
Posisi tak sesuai bakat
Kendati seorang manajer, tetapi Anda sebenarnya sangat ingin menjadi juru masak yang handal. Atau, jenis pekerjaan sebagai koordinator tak membuat Anda merasa kreatif dalam pekerjaan. Tak pernah ada kata terlambat untuk mengubah pandangan ke arah yang lebih baru. Demi karir dan kebahagiaan Anda di masa depan, mulailah putuskan segera!
Setiap saat jadi menyebalkan
Seringkali mencoba berdamai dengan perasaan frustrasi, dan menganggapnya sebagai salah satu aspek dalam bekerja. Jika kebanyakan waktu Anda gunakan untuk mengembangkan pikiran negatif dan berkeluh kesah, mungkin sudah saatnya mengakhiri semuanya. Cari karir baru di lingkungan yang membuat Anda merasa diberi penghargaan dan tepat dengan bakat yang dimiliki. Anda bisa, kok, melakukannya!
Butuh Apa Agar Karier Meroket?
Jangan hanya bersikap pasif menunggu datangnya promosi. Setiap orang seharusnya memiliki target jangka panjang dalam peta kariernya dan aktif mengasah kemampuan agar siap menerima tanggung jawab lebih. Untuk meraihnya, Anda tidak bisa hanya terpaku mengerjakan tugas-tugas rutin di kantor.
Untuk menduduki posisi eksekutif, menurut Linawaty Mustopoh, dari lembaga konsultan Experd, ada dua skill yang perlu dimiliki. Pertama adalah keterampilan yang berkaitan dengan teknik pekerjaan (hard skill). "Hard skill biasanya diperoleh di bangku sekolah," ujarnya.
Yang termasuk dalam hard skill di antaranya adalah pengetahuan dan keterampilan sesuai profesi yang dijalani. Misalnya bila Anda seorang pengacara, tentu Anda harus tahu tentang peraturan, perundangan, serta sertifikasi yang berhubungan dengan profesi. Dengan menguasai skill ini, Anda akan lebih mudah melakukan tugas yang bersifat teknis.
Keterampilan lainnya adalah menguasai bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Ini mutlak diperlukan untuk mendukung karir ke depan. Tidak kalah penting adalah menguasi teknologi. "Tidak sebatas penguasaan program-program komputer tapi teknologi lain yang menunjang karir Anda," papar Lina.
Kenyataannya, langkah karier tidak selalu berjalan sesuai hirarki. Meski Anda sudah lama menduduki jabatan asisten manajer, hanya segelintir orang saja yang berhasil meniti karier hingga level top management. Lalu apa yang membedakan mereka yang berhasil dan yang tidak? "Nah, di sinilah diperlukan soft skill atau dikenal juga dengan emotional intelligence," kata Lina.
Menurut Lina, keberhasilan pada akhirnya tidak semata ditentukan oleh kepintaran saja. "Makin tinggi posisi kita, makin dituntut keterampilan dalam berhubungan dan mengelola orang lain," ujarnya. Dengan kata lain, makin tinggi posisi, makin dibutuhkan soft skill seseorang.
Soft skill yang diperlukan untuk mendukung performa seorang penentu masa depan perusahaan di antaranya adalah keterampilan komunikasi agar bisa menyampaikan atau menjual ide kepada pihak lain (klien, rekan kerja, anak buah, dan atasan). Anda juga harus memiliki kemampuan presentasi, negosiasi, mampu bekerja sama, memiliki kepemimpinan, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mampu membina hubungan dengan orang lain, kemampuan mengembangkan anak buah, serta punya sifat pelayanan pada pelanggan.
"Bila ada dua orang yang memiliki hard skill yang sama, maka yang akan sukses di masa depan adalah yang memiliki soft skill lebih baik," kata Lina. Bila kita membekali diri dengan soft skill, peluang karier, bahkan di posisi lebih tinggi pun terbuka luas. Menurut penuturan Lina, hal ini terutama karena makin tinggi posisi seseorang, makin banyak pula ia berhubungan dengan manusia, yang notabene permasalahannya tidak hanya cukup diselesaikan dengan angka atau fakta.
Jadi, jangan mau karier cuma jalan di tempat. Mantapkan langkah dengan membekali diri dengan dua skill penting itu sejak sekarang.
Saturday, May 16, 2009
Pilih Profesi Berdasarkan Warna Favorit
Bagaimana caranya? Pertama, pilih dulu warna primer yang paling Anda sukai (warna primer misalnya merah, kuning, atau biru). Dari sini Anda bisa memilih warna sekunder (hijau, ungu, atau oranye), dan warna akromatik (hitam,putih, atau coklat). "Warna yang Anda pilih mencerminkan bagaimana Anda menghadapi tiap tugas. Warna itu bisa menunjukkan bakat Anda, apa yang lebih diprioritaskan untuk sukses," kata Dewey Sadka, penulis buku The Dewey Color System.
Jadi, apakah Anda peneliti, pencipta, manajer, pembujuk, pelaksana, atau pembuat jadwal? Ketahui dengan menentukan warna favorit.
Bila Anda suka: kuning, ungu, dan putih: Anda adalah komunikator
Anda memiliki kelebihan di bidang komunikasi. Dengan skill ini Anda jadi pintar mengetahui keinginan klien sehingga punya strategi tepat agar mereka mau mendengarkan ide-ide Anda. Kemampuan Anda berkomunikasi juga menjadi modal Anda untuk mencari jalan keluar dari masalah-masalah. Karir yang tepat untuk si komunikator adalah di bidang marketing, public relation, atau bekerja di bidang agama.
Bila Anda suka: merah, hijau, dan hitam: Anda adalah investor
Anda punya pengetahuan yang baik dalam menilai uang dan tenaga, juga dalam hal melihat kontribusi yang diberikan tiap karyawan. Anda adalah orang yang suportif, dan punya kemampuan analitik. Karir yang tepat adalah di bidang keuangan, akunting, perbankkan, manajemen properti, manufacturing, analasis produksi, investasi, manajemen keuangan, konsultan, sales produk, atau mengajar.
Bila Anda suka: biru, oranye, dan coklat: Anda adalah aktivis
Anda punya kekuatan untuk membuat orang percaya, selain itu Anda juga bukan orang yang mudah percaya pada hal-hal tak logis. Pekerjaan yang cocok untuk Anda adalah pekerjaan yang memiliki dampak sosial serta profesi yang berkaitan dengan meningkatkan mutu sesuatu yang sudah ada. Pertimbangkan untuk berkarir di bidang engineering, pembangungan, atau membuat program, produk, atau perusahaan baru. Anda juga cocok berkarir di bidang sosial, pegawai pemerintahan, serta pelaksanaan hukum.
Dilema Karier, Timbang Dulu Sebelum Memutuskan
1. Gaji rekan sekerja lebih tinggi
Tanpa sengaja Anda melihat slip gaji rekan sekerja. Ternyata gaji rekan sekerja yang posisinya selevel dengan Anda jauh lebih besar dari jumlah yang Anda terima tiap bulan.
Yang harus dilakukan:
Tahan keinginan Anda untuk menuntut penjelasan dari atasan saat itu juga. Menemui atasan karena alasan finansial, apalagi berdasarkan informasi yang sifatnya confidential, akan merugikan Anda sendiri.
Gunakan jaringan kerja yang dimiliki untuk mencari informasi mengenai pasaran gaji untuk posisi Anda. Nah, berdasarkan informasi valid di tangan, ditambah dengan daftar prestasi serta kemampuan Anda selama ini, Anda bisa meminta penjelasan pada atasan mengenai perbedaan standar gaji. Tapi ingat, jagalah reputasi Anda. Hindari emosi yang meledak-ledak.
2. Ditawari Pindah Kerja, Tapi Suka Pekerjaan Sekarang
Seorang teman menginformasikan ada lowongan untuk jabatan empuk di kantornya. Ia meminta Anda melamar dan berjanji akan memprioritaskan Anda dengan kompensasi yang lebih tinggi. Anda tergoda, tapi di lain pihak Anda terlanjur mencintai pekerjaan yang sekarang.
Yang harus dilakukan:
Keputusan pindah kerja memang bukan keputusan yang mudah. Galilah informasi lebih dalam lagi dari teman Anda, misalnya mengenai proses penerimaan, peraturan perusahan, jenjang karier, budaya perusahaan, kompensasi lain di luar gaji, dan sebagainya. Sehingga Anda bisa membuat perbandingan.
Taruhlah setelah mendapat informasi Anda masih tertarik. Gunakan kesempatan wawancara untuk mengetahui lebih banyak informasi mengenai jenis tugas dan tanggung jawab yang akan Anda laksanakan. Bisa jadi gaji tinggi mencerminkan beban kerja yang tinggi pula. Dari sini Anda bisa menilai apakah pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang sesuai dengan minat dan kondisi Anda.
3. Kesempatan Mengerjakan Proyek Penting tapi Sulit.
Dalam rapat, atasan menginformasikan adanya sebuah proyek penting dari klien utama perusahaan. Atasan membuka kesempatan pada siapa saja untuk memimpin proyek ini. Sebenarnya ini merupakan tantangan yang menarik karena bila berhasil, maka karir Anda bisa terdongkrak. Tapi Anda tahu benar si klien adalah pihak yang sulit dan sangat perfeksionis.
Yang harus dilakukan:
Bila selama ini Anda berambisi untuk meraih posisi lebih tinggi, tak perlu ragu memanfaatkan kesempatan emas yang terbuka di depan mata. Tetapi sebelumnya tanyakan dulu pada diri sendiri apakah Anda mampu dan mau mengerjakan tanggung jawab yang lebih besar di luar job desk Anda sekarang.
Bila Anda merasa kurang optimis bisa memimpin proyek ini, bicarakan pada atasan kemungkinan Anda untuk bergabung dalam tim. Mintalah bagian penting dalam tim sehingga Anda bisa menunjukkan kemampuan sekaligus memaksimalkan skill.
Thursday, May 14, 2009
Kebiasaan yang Mengancam Karir
1. Gaya hidup tidak sehat
Merokok, hobi mabuk-mabukan, serta kebiasaan makan secara berlebihan termasuk dalam gaya hidup yang bisa merugikan karir. Apa pasal? Sekarang perusahaan lebih memilih karyawan yang sehat jiwa dan badannya karena bisa menghemat anggaran kesehatan perusahaan.
2. Suka ngambek
Gampang ngambek, apalagi tanpa alasan yang jelas, menunjukkan bahwa sebenarnya Anda belum dewasa dan belum siap memasuki dunia kerja. Jadi, meski atasan kerap membuat Anda kesal, tahan diri untuk tidak bersikap emosional. Bila ada kesempatan yang tepat, Anda bisa mengungkapkan perasaan dengan cara yang bijak sehingga Anda tetap dinilai profesional.
3. Ngaret
Jauhkan sikap tidak disiplin dari kamus Anda. Berusahalah untuk menepati hal-hal yang sudah disepakati bersama, misalnya jam masuk kerja, waktu rapat, termasuk juga saat menyerahkan laporan pekerjaan. Sikap disiplin mencerminkan komitmen yang tinggi dan tanggung jawab.
4. Malas membaca koran
Kebanyakan wanita lebih suka membaca majalah dan tabloid gosip. Padahal, dengan mengetahui isu-isu terbaru yang sedang hangat, wawasan Anda akan bertambah. Keputusan dan kebijakan perusahaan juga kerap dibuat berdasarkan fenomena yang sedang terjadi di masyarakat, seperti kenaikan BBM misalnya.
5. Malas bergaul
Meski tumpukan pekerjaan menghadang luangkanlah waktu untuk bergaul dan bersosialisasi. Berinteraksi dengan banyak orang dari berbagai kalangan akan menambah jejaring yang pastinya akan berguna bagi pekerjaan.
Jadi, tunggu apa lagi? Segera ubah kebiasaan buruk anda. Sekarang Juga!
Cemburu, Racun Bagi Karir
Bila tak diatasi, rasa cemburu bisa membuat hari-hari di kantor berubah menjadi beban yang menyebalkan. "Kecemburuan bisa jadi racun bagi karir. Jika Anda mengakui bahwa Anda cemburu, Anda bisa mulai mengatasinya," kata Johanna Rothman, penulis buku Behind Closed Doors: Secret of Great Management. Tak ingin rasa cemburu menghalangi kemajuan karir? Pertimbangkan tips berikut:
Jika Anda Cemburu
* Kumpulkan catatan prestasi
"Buat catatan prestasi Anda setiap bulannya. Ketika saya melakukan hal ini, saya menyadari bahwa kesuksesan yang didapat orang lain memang karena prestasinya. Dari catatan prestasi saya, kadangkala kita sadar bahwa kita tak cukup perform sehingga belum siap jadi manajer," papar Rothman.
* Bicarakan dengan atasan
Beredar gosip di kantor kemungkinan mutasi manajer Anda ke kantor cabang. Anda bisa mencoba bicara dengan atasan. Bawa catatan prestasi yang telah disumbangkan selama menjabat sebagai asisten manajer dan tanyakan kemungkinan Anda untuk menduduki posisi tersebut.
* Tingkatkan kemampuan
Daripada bersungut-sungut di belakang karena kecewa tak mendapat promosi lebih baik pelajari kemampuan apa yang belum Anda miliki untuk menjadi kandidat manajer. Tak ada salahnya berdiskusi dengan manajer yang baru bagaimana cara meningkatkan skill Anda. Perkaya wawasan dengan mengikuti pelatihan atau memiliki mentor yang tepat.
Jika Anda Dicemburui
* Tetaplah rendah hati
"Terkadang bukan kedekatan dengan pucuk pimpinan, gaji dan fasilitas, atau kenaikan jabatan yang membuat orang lain cemburu dan kesal, tapi lebih pada bagaimana cara kita bersikap," ujar Rothman. Jadi, sebagai pemimpin pemula Anda tak perlu mengubah sikap secara drastis, misalnya tetaplah bergaul seperti biasa dengan rekan-rekan kerja yang lain. Yang harus diingat adalah jangan membocorkan rahasia perusahaan.
* Jangan minta maaf
Memang Anda perlu bersikap rendah hati, tapi jangan merendahkan diri. Anda tak perlu meminta maaf kepada rekan-rekan kerja lain karena Anda terpilih untuk menduduki posisi atasan. Bersikaplah profesional. Seorang pimpinan yang ideal harus mampu menyeimbangkan antara tugas dan hubungan personal.
* Bawahan sebagai partner
Atasan yang baik harus mau mendelegasikan tugas kepada bawahan dan memberikan contoh. Pandang bawahan sebagai partner untuk mencapai kemajuan perusahaan. Bila mencapai keberhasilan apalagi jika itu karena hasil kerja tim, jangan pernah mengakui itu sebagai prestasi pribadi.
sumber:kompas.com
Tuesday, May 12, 2009
Karir Mentok? Saatnya Melakukan Rebranding
Seperti halnya sebuah produk yang penting, diri kita pun harusnya memilliki brand (citra) yang baik. Kalau selama ini brand yang melekat terlanjur biasa-biasa saja, maka Anda perlu merombak dan memperbaikinya.
Menurut Handito Hadi Joewono, dari Branding Indonesia, peran brand sangat penting bagi setiap orang, khususnya para karyawan. Antara lain membuat kita mudah dikenal dan bisa membangun citra perusahaan.
"Makin baik brand kita, makin luas networkingnya, kita bisa menjadi ambassador perusahaan, Pada akhirnya akan meningkatkan kepuasan pelanggan pada perusahaan," papar Hadi.
Dengan kata lain, jika memiliki brand yang baik kita tak hanya makin dikenal tapi juga ikut berkontribusi pada perusahaan dalam hal pencapaian visi dan misi perusahaan. Hal ini tentu saja akan meningkatkan daya jual kita sehingga perusahaan akan melihat kita sebagai aset yang berharga. Ujung-ujungnya tentu saja kompensasi yang sesuai, baik berupa kenaikan jabatan atau gaji.
Untuk melakukan re-branding, menurut Hadi ada beberapa langkah yang perlu kita lakukan, yakni:
1. Perumusan
Pada langkah pertama ini kita perlu menentukan positioning yang ingin kita pilih. Maksudnya kita tentukan persepsi yang ingin orang lihat pada diri kita. Misalnya saja si pekerja keras, si suka membantu, dan sebagainya.
2. Brand Identity
Menentukan identitas berarti kita perlu memilih simbol-simbol yang konsisten sehingga identitas ini akan melekat pada diri kita. Simbol yang dimaksud di sini ada yang berupa fisik atau penampilan yang menjadi ciri khas, misalnya selalu mengenakan kemeja lengan panjang yang digulung.
Ada pula simbol yang non fisik, misalnya karakter atau perilaku, seperti humoris atau smart. Simbol non fisik juga termasuk nama panggilan. "Tentukan nama panggilan kita yang mudah diingat dan dikenal," saran Hadi.
3. Komunikasikan
Setelah menentukan positioning dan brand identity, terakhir adalah mencari cara jitu untuk mempromosikan brand kita, baik di kantor atau di luar kantor. Hal ini bisa dimulai dari hal sederhana, semisal selalu menyebutkan nama kita saat bertemu klien. Layaknya sebuah produk, ia akan makin dikenal jika terus diiklankan.
sumber: kompas.com
Monday, May 11, 2009
Agar Gaji Tidak Cepat Habis
*Selalu berpikir jauh ke depan! Buatlah daftar pengeluaran cukup besar yang harus Anda penuhi di masa depan. Misalnya; pernikahan, hari kelahiran anak, liburan, atau kuliah lagi. Anda bisa merencanakan sebuah prosedur tabungan khusus untuk hal ini, contohnya menyiapkan tabungan di bank yang ditarik secara otomatis dari tabungan yang selalu dimasukkan gaji per bulannya.
*Buat perencanaan keuangan khusus untuk bulan dan tahun ke depan, sementara buat perhitungan pemasukan dan pengeluaran rata-rata per bulan Anda. Juga lihat pos-pos keuangan yang bisa Anda kurangi pengeluarannya. Misalnya, buatlah batasan jika tagihan telepon Anda membeludak, dan kurangi intensitas menelepon. Atau, jika Anda memiliki kecenderungan membeli setidaknya 1 baju atau 1 pasang sepatu tiap bulan, buat album koleksi pakaian dan sepatu Anda untuk memastikan dan meyakinkan diri bahwa Anda memiliki cukup pakaian yang bisa dipadupadankan tanpa perlu membeli terus-menerus.
*Simpan bon dan kuitansi yang Anda terima. Baik itu pembayaran pulsa telepon di ATM, atau ongkos makan siang, lalu simpan dan hitung lagi pengeluaran Anda per harinya. Lalu bayangkan, apakah semua pengeluaran Anda itu cukup berarti? Atau masih bisa ditekan lagi? Mungkin Anda bisa mencari alternatif dari masing-masing pengeluaran tersebut. Mungkin dengan mencari makan siang di kantin saja, ketimbang ke foodcourt bersama teman-teman lain. Atau mungkin naik ojek saja ketimbang naik taksi jika jarak dari kantor Anda ke kantor klien tak terlalu jauh. Potongan kecil tapi sering bisa menjadi amat berarti jika dihitung per tahun.
*Hindari godaan! Ini dia yang paling sulit dihindari para wanita. Ingatlah: Hanya karena di mal sedang ada diskon besar-besaran, tak berarti Anda memerlukannya. Pikirkan masak-masak, apakah Anda akan benar-benar memerlukan barang yang akan Anda beli tersebut? Apakah sangat krusial? Apakah akan Anda gunakan?
*Menabunglah, tapi jangan lupa untuk memberikan "hadiah" pada diri Anda ketika tujuan Anda sudah terpenuhi. Buat target nilai tabungan Anda, lalu berikan hadiah jika sudah mencapai target tersebut.
*Simpan dan catat segala hal yang berkaitan dengan keuangan Anda. Jika bank mengirimkan catatan keuangan Anda, simpan. Jangan dibuang, apalagi jika tercantum nama lengkap dan data diri lainnya. Hal ini sekaligus untuk menghindari penipuan ataupun pencurian identitas.
*Bahkan berlibur pun akan butuh biaya. Maka, tak ada salahnya untuk mulai menabung, ketimbang meminjam uang yang Anda tak tahu kapan bisa membayarnya kembali.
Kematangan Pribadi Dalam Memimpin di Masa Krisis
Seorang atasan bisa saja “mengecilkan” harga diri bawahannya sedemikian rupa, sebagai salah satu cara untuk menyelamatkan posisi dan jabatannya, sehingga setiap individu yang menyaksikan kejadian tersebut bisa melihat bahwa sang atasan-lah yang tidak bijaksana.
Seorang profesional pun bisa tidak mengakui kesalahan yang dibuat, bahkan menuding orang lain yang perlu bertanggung jawab atas kesalahan yang dibuatnya. Artinya disini kita bisa menyimpulkan bahwa tidak bijaksananya individu disebabkan karena ia belum mencapai tingkat kematangan yang diharapkan baik oleh lingkungan maupun oleh dirinya sendiri. Kenyataan yang perlu kita simak bersama adalah bahwa kematangan itu tidak diturunkan dan bukan bawaan dari lahir. Tetapi benar-benar dipelajari dan dilatih dengan sepenuh hati. Walaupun seorang yang sudah berangkat matang, tapi akhirnya kemudian kematangannya bisa merosot karena berada di lingkungan yang bobrok.
Salah seorang pakar Psikologi Kepribadian mendeskripsikan lima persyaratan tentang kematangan pribadi yaitu berpikir obyektif, berpikir positif, mampu mengendalikan dan menyalurkan emosi, bertanggung jawab serta mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relative panjang. Kemudian disebutkan : “Maturity is humility.It is being big enough to say “I was wrong”. And when right, the mature person need to experience the satisfaction of saying, “I told you so””.
Dalam proses pemilihan kandidat pemimpin eksekutif atau pejabat tertentu sering dilakukan “fit and proper test”. Hal ini dilakukan dengan melihat kematangan pribadi sebagai kriteria utama dalam pemilihan calon pemimpin tersebut. Ditemukan bahwa banyak kandidat yang pintar-pintar, namun justru yang dicari adalah pemimpin yang punya ciri kematangan yang disebutkan di atas. Dari pengamatan sehari-hari jelas bahwa ketidakmatangan yang disebutkan ini sering terlihat pada ketidakberanian pemimpin tersebut untuk mengambil keputusan, memaksakan pendapat, meng-”abuse” kekuasaan, serta ketidakmampuan membina hubungan antar manusia secara fair dan bertanggung jawab. Dan indikasi yang ditemukan adalah pernyataan dari orang lain yang bisa mencerminkan tingkat kematangan pimpinannya misalnya :”Bapak Joke mengambil keputusan yang sangat tidak bijaksana dalam mengelola masalah bisnis kita. Setelah lama menjabat , tetap tidak ada perbedaan yang atau perbaikan yang berarti dihasilkan buat organisasi kita”. Dan terlihat dari efek yang timbul adalah ketidakharmonisan dan juga kinerja yang tidak optimal di kalangan individu dalam organisasi tersebut.
Dari kenyataan ini, kita bisa belajar bahwa pada dasarnya pendidikan dan kepintaran tidak selamanya berhubungan langsung dengan kematangan pribadi, terutama kalau individu mengembangkan fungsi-fungsi di dalam dirinya secara berat sebelah, misalnya saja banyak berpikir tanpa mengembangkan kepribadian dalam kehidupan seharihari di organisasi. Sering ditemukan dalam kesehariaan di organisasi perusahaan bahwa kenyamanan lingkungan kerja dapat menyebabkan orang tidak berani keluar dari lingkungan tersebut, memelihara sikap kebal dan pengecutnya, bahkan mengembangkan dirinya menjadi pribadi yang tidak matang. Sosok pribadi tersebut hanya melakukan prinsip “play not to loose”, bukannya “play to win”.
Tumpulnya kesadaran yang dipelihara sering menyebabkan ketidakmampuan individu untuk berdialog dengan hati nurani atau kata hatinya , sehingga ia kehilangan kacamata objektif dan positifnya dan memang dibutakan dari realitas yang sebenarnya.
Salah satu sifat ksatria yang dimiliki oleh budaya Jepang di zaman para samurai adalah tindakan “hara-kiri” (bunuh diri demi kehormatan). Di zaman modern seperti sekarang ini budaya tersebut tentunya bisa tampil dalam bentuk yang lebih elegan untuk tampil sebagai seorang ksatria yaitu : “Shame and Guilt”, alias malu dan bersalah, seperti tindakan yang bertanggung jawab atau bahkan mengundurkan diri dari seorang pejabat atau pemimpin atas kejadian yang dilakukannya atau dibawah pimpinanannya yang telah merugikan orang lain, perusahaan atau negaranya.
Introspection Moment
Berbeda dengan prestasi yang langsung terukur (misalnya: pencapaian sales performance, peningkatan penguasaan pangsa pasar, peraihan aspek keuangan yang baik dan sebagainya), individu memang tidak bisa “pamer kematangan”dengan mudah, tetapi harus membuktikannya dengan tindakan yang teruji dari waktu ke waktu. Sikap objektif, positif, bertanggungjawab dan matang emosi hanya bisa ditakar dalam hati.
Bila seorang pimpinan ingin bersikap tulus, bijaksana, adil, jujur dan seimbang dalam memberikan arahan dan mendengar masukan dari orang lain, maka ia perlu menyelesaikan pergulatan dan konflik internalnya di dalam hati sendiri (vested interest) dengan “corporate values” dan selalu berusaha untuk memelihara harmonisasi dalam penyelesaian konflik tersebut dengan bijaksana.
Tidak dapat disangkal di lingkungan organisasi kita ini banyak orangorang pintar dengan pemikiran dan keahlian yang luar biasa, tinggal tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita bisa menjadi pemimpin atas diri masing-masing dengan menjadi individu yang memiliki pribadi matang. Sudah bisa dibayangkan fenomena ini akan menjadi “Flywheel Effect” yang bisa menjadi energi luarbiasa buat organisasi kita khususnya untuk bisa “survive in crisis mode” saat ini.
Saturday, October 4, 2008
25 Great Salary Negotiation Tips (Negosiasi Gaji)
1. From the moment you make initial contact with any company or organization you wish to work with, you are in negotiation. You may not be discussing money openly, but you are making a permanent imprint on the minds of the hiring authorities.
2. Delay all discussions of salary until there is an offer on the table.
3. You are in the strongest negotiating position as soon as the offer is made.
4. Know your value. You must know how you can contribute to the organization. Establish this in the mind of the hiring manager.
5. Get employers enthusiastic about your candidacy, and they will become more generous.
6. There is no substitute for preparation. If you are well prepared, you’ll be confident, self-assured, and poised for success.
7. Prior to going into employment negotiations, you must know the average salary paid for similar positions with other organizations in your geographical area.
8. Prior to going into employment negotiations you must know, as best you can, the salary range that the company you’re interviewing with will pay, or what former employees were earning.
9. Prior to going into employment negotiations, you must know your personal needs and requirements, and how they relate to numbers 7 and 8 above.
10. Remember, fringes and perks, such as vacation time, flex time, health benefits, pension plans, and so on, have value. Consider the “total” salary package.
11. Salary negotiations must be win-win negotiations. If they’re not, everybody loses in the end.
12. Be flexible; don’t get hung up on trivial issues, and always seek compromise when possible.
13. Listen carefully and pay close attention. Your goals will most likely be different from the goals of the employer. For instance, the firm’s main focus might be “base salary.” Yours might be “total earning potential.” So a win-win solution might be to negotiate a lower base salary but a higher commission or bonus structure.
14. Anticipate objections and prepare effective answers to these objections.
15. Try to understand the employer’s point of view. Then plan a strategy to meet both the employer’s concerns and your needs.
16. Don’t be afraid to negotiate out of fear of losing the offer. Most employers expect you to negotiate as long as you negotiate in a fair and reasonable manner.
17. Always negotiate in a way that reflects your personality, character, and work ethic. Remain within your comfort zone.
18. Never lose control. Remain enthusiastic and upbeat even if the negotiations get a little hot. This might be your first test under fire.
19. Play hardball only if you’re willing to walk away from, or lose, the deal.
20. What you lose in the negotiations will most likely never be recouped. Don’t be careless in preparing for or conducting the negotiation.
21. Be sure to get the offer and final agreement in writing.
22. You should feel comfortable asking the employer for 24 to 48 hours to think about the deal if you need time to think it over.
23. Never link salary to personal needs or problems. Compensation should always be linked to your value.
24. Understand your leverage. Know if you are in a position of strength or weakness and negotiate intelligently based on your personal situation.
25. End salary negotiations on a friendly and cheerful note.
25 Great Tips on using Internet in your Job Hunting
1. When typing your resume out with the intent of emailing, make sure it is in an ASCII format.
2. Use keywords heavily in the introduction of the resume, not at the end.
3. Keywords are almost always nouns, related to skills, such as financial analysis, marketing, accounting, or Web design.
4. When sending your resume via email in an ASCII format, attach (if you can) a nicely formatted one in case it does go through and the reader would like to see your creativity and preferred layout. If you do attach it, use a common program like MS Word.
5. Don’t focus on an objective in the introduction of the resume, but rather accomplishments, using keywords to describe them.
6. Don’t post your resume to your own Web site unless it is a very slick page. A poorly executed Web page is more damaging than none at all.
7. Before you email your resume, experiment sending it to yourself and to a friend as a test drive.
8. Look up the Web site of the company you are targeting to get recent news information about new products, etc., and look for their job posting for new information.
9. Before your interview or verbal contact, research the company’s Web site.
10. Use a font size between 10 and 14 point, make it all the same for an ASCII format resume, and don’t create your resume for emailing with lines exceeding 65 characters.
11. In case your resume may be scanned, use white paper with no borders and no creative fonts.
12. Include your email address on your resume and cover letter.
13. Don’t email from your current employer’s IP network.
14. Don’t circulate your work email address for job search purposes.
15. In the “subject” of your email (just below the “address to” part), put something more creative than “Resume Enclosed.” Try “Resume showing 8 years in telecommunications industry” (if that is your chosen industry), for example.
16. For additional sources of online job searching, do a “search” on the Web for job searching, your company, and your specific discipline for additional information.
17. Be careful of your spelling on the Internet. You will notice more spelling errors on email exchanges than you will ever see in mailed letter exchanges.
18. Try to make sure your resume is scannable. This means it has a simple font, no borders, no creative lining, no bold face, no underlining, no italics, and limited if any columning. Though the practice of scanning is overestimated, it should still be a consideration.
19. Purchase or check out of a library an Internet directory listing the many links to job opportunities out there. There are thousands.
20. If you are using the email as your cover letter, keep it brief. If the reader is reading on screen, their tolerance for reading long information is reduced dramatically.
21. Always back up what you can on a disk.
22. If you post your resume to a newsgroup, first make sure that this is acceptable to avoid any problems with other participants.
23. Remember that tabs and spaces are the only formatting you can do in ASCII.
24. Make sure you check your email every day. If you are communicating via the Internet, people may expect a prompt return.
25. Don’t send multiple emails to ensure that one gets through. Try to send it with a confirmation of receipt, or keep a look out for a notice from you ISP that the message didn’t go through.
quoted from "To Get You Hired" book.
25 Great Interviewing Tips
1. Relax. The employment interview is just a meeting. And although you should not treat this meeting lightly, don’t forget that the organization interviewing you is in need of your services as much as, or perhaps more than, you are of theirs.
2. The key to successful interviewing is rapport building. Most people spend their time preparing for interviews by memorizing canned responses to anticipated questions. Successful interviewers spend most of their time practicing the art of rapport building through the use of powerfully effective communicating techniques.
3. Prepare a manila folder that you will bring to the interview. Include in the folder:
a. company information (annual reports, sales material, etc.)
b. extra resumes (6–12) and your letters of reference
c. 15 questions you’ve prepared based on your research and analysis of the company
d. a blank legal pad, pen, and anything else you consider helpful (e.g., college transcripts)
4. Dress appropriately. Determine the dress code and meet it. If their dress is business casual, you still need to be dressed in business professional. Practice proper grooming and hygiene.
5. Shoes, of course, must be polished.
6. Wear limited jewelry.
7. Call the day before and confirm the appointment—it will set you apart.
8. Be certain that you know exactly where you’re going. Arrive in plenty of time. You should be at the receptionist’s desk 10–12 minutes before the scheduled interview.
9. Prior to meeting the receptionist, check your appearance. Check your hair, clothing, and general image. Test your smile.
10. Secretaries, administrative assistants, and receptionists often have a say in the hiring process. Make a strong first impression with them.
11. Look around the office and search for artifacts that disclose the personality and culture of the company—and possibly the interviewer. his information will be helpful in initially breaking the ice, when you first begin discussions.
12. Be aware of your body language. Sit erect, with confidence. When standing and walking, move with confidence!
13. Your handshake should be firm, made with a wide-open hand, fingers stretched wide apart. Women should feel comfortable offering their hands and firm and friendly handshakes. A power handshake and great smile will get you off to a great start.
14. Eye contact is one of the most powerful forms of communicating. It demonstrates confidence, trust, and power.
15. During the interview, lean forward toward the interviewer. Show enthusiasm and sincere interest.
16. Take notes during the interview. You may want to refer to them later in the interview. If you are uncomfortable with this, ask permission first.
17. Be prepared for all questions, especially uncomfortable ones. Before the interview, script out a one-page response for each question that poses a problem for you, and practice repeating it until you’re comfortable with it.
18. Communicate your skills, qualifications, and credentials to the hiring manager. Describe your market value and the benefits you offer. Demonstrate how you will contribute to the bottom line. Show how you can 1) improve sales, 2) reduce costs, 3) improve productivity, or 4) solve organizational problems.
19. Key in on specific accomplishments. Accomplishments determine hireability. They separate the winners from the runners-up.
20. Listening skills are priceless! Job offers are made to those who listen well, find hidden meanings, and answer questions in a brief but effective manner.
21. Let the interviewer bring up salary first. The purpose of an interview is to determine whether there is a match. Once that is determined, salary should then be negotiated.
22. There is no substitute for planning and preparation, practice and rehearsing—absolutely none.
23. Practice interviewing techniques using video technology. A minimum of five hours of video practice, preferably more, guarantees a stellar performance.
24. Close the sale. If you find that you want the position, ask for it. Ask directly, “Is there anything that would prevent you from offering me this position now?” or “Do you have any reservations or concerns?” (if you sense that). At the very least, this should flush out any objections and give you the opportunity to turn them into positives.
25. Always send a thank-you note within 24 hours of every employment meeting.
quoted from "To Get You Hired" book.