Monday, February 8, 2010
Amankah Kartu ATM Anda?
Selama ini, kasus-kasus yang muncul ke permukaan kebanyakan adalah kasus penipuan rekayasa sosial yang memanfaatkan keserakahan korbannya, seperti ditipu menang undian dan diminta mentransfer dana dari rekeningnya ke rekening penipu.
Sebelum kasus ini, kesan yang timbul di masyarakat adalah sistem pengamanan transaksi bank di ATM sangat aman karena hanya kartu ATM yang bersangkutan yang dapat digunakan untuk menarik dana dari rekeningnya.
Kalau ada kesalahan, berarti pemegang kartu yang memberikan kartu ATM dan PIN kepada orang lain dan bank secara sepihak dapat melakukan pendebetan rekening nasabah hanya mendasarkan pada verifikasi kesamaan data kartu magnetik milik nasabah dan PIN nasabah. Seharusnya bank berkewajiban untuk memberikan data pendukung yang independen, seperti rekaman CCTV pada saat transaksi dilakukan.
Apalagi dibandingkan dengan sistem transaksi perbankan melalui internet yang sering dituduh sebagai sarang penyamun sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus karena ancaman dari dunia maya yang tidak terlihat dikesankan lebih berbahaya dari ancaman di dunia nyata. Meskipun secara teknis pengamanan transaksi melalui internet yang menggunakan token (kalkulator PIN) sebenarnya jauh lebih aman daripada pengamanan transaksi melalui kartu ATM. Wajar saja, kebanyakan orang lebih takut setan daripada preman.
Teknologi lawas
Kenyataannya, teknologi kartu magnetik yang digunakan ATM saat ini adalah teknologi kuno yang ditemukan oleh IBM pada tahun 1960-an dan mulai di implementasikan sejak tahun 1972 oleh NBI (National BankAmericard Inc) yang kemudian berubah nama menjadi VISA dan meluas penggunaannya sampai hari ini.
Jika anda ingin mendapatkan perbandingan, teknologi kartu magnetik ini memiliki dua jenis. Pertama, teknologi perekaman lagu di kaset reel to reel analog yang saat ini sudah mulai menjadi barang kuno dan sudah bertransformasi menjadi digital dan disebarkan baik melalui keping CD atau online. Kedua, floppy disk drive (FDD) yang disimpan dalam bentuk disk magnetik dan bertransformasi menjadi penyimpanan dalam bentuk memori flash (UFD, USB flash disk).
Teknologi kartu magnetik memang sudah harus ditinggalkan dan sebenarnya hal ini sudah dilakukan para vendor kartu kredit (atas ”paksaan” dari Bank Indonesia) yang mulai mengimplementasikan Smart Card pada seluruh kartu kredit sejak Januari 2010. Namun, mungkin karena alasan ekonomis, bank-bank yang sebenarnya telah mendapatkan banyak keuntungan dari teknologi lawas ini tidak buru-buru menerapkan Smart Card pada kartu ATM.
Mungkin karena implementasi Smart Card membutuhkan penggantian hardware, baik kartu baru, mesin ATM, dan mesin debit yang tidak sedikit jumlahnya. Namun, apabila pertimbangan ekonomis mengalahkan pertimbangan keamanan, keputusan yang diambil oleh bank-bank ini cepat atau lambat akan menjadi bumerang bagi bank, terbukti dari munculnya kasus di Kuta ini dan bukan tidak mungkin akan mengakibatkan kerugian yang jauh lebih besar dari saat ini karena alat dan teknologi penyadapan dan pemalsuan kartu magnetik ini sudah sangat umum dan mudah didapatkan.
Proses keamanan
Jika nasabah dan bank selalu berhati-hati, mawas diri dan sadar sekuriti, kemungkinan terjadi insiden sekuriti akan dapat ditekan. Sebagai perbandingan, transaksi keuangan melalui internet secara teori sangat berbahaya karena, selain nasabah yang bersangkutan, ratusan juta orang di seluruh dunia terhubung ke internet yang sama dan tidak terhitung pelaku kriminal yang siap menerkam jika ada kesempatan.
Namun, terbukti karena semua pihak, baik bank maupun nasabah, sadar akan ancaman ini sehingga menjadi mawas diri dan mencari metode pengamanan yang memadai di mana salah satunya menggunakan token (two factor authentication) saat ini menjadikan transaksi di internet jauh lebih aman dibandingkan dengan transaksi menggunakan kartu ATM dan belum ada satu pun laporan yang sistem pengamanan dengan token ini berhasil di tembus.
Menurut pengamatan penulis, bank sebenarnya sudah menyadari akan adanya kelemahan pada pengamanan ATM ini, terbukti dengan dipasangnya alat anti-skimmer dan penutup keypad yang bertujuan untuk mempersulit penyadapan data, baik data kartu magnetik yang dapat disadap menggunakan skimmer (alat penyadap data kartu ATM magnetik) yang ditempelkan di mesin ATM persis di depan lubang memasukkan kartu ataupun data PIN yang biasanya disadap menggunakan kamera tersembunyi.
Namun, ternyata tidak semua mesin ATM dipasangi alat anti-skimmer dan penutup keypad sehingga teoretis lebih rentan disadap daripada mesin dengan anti-skimmer dan penutup keypad. Akan tetapi, sebenarnya hal ini bukan merupakan solusi permanen karena fungsi kartu ATM sekarang sudah lebih dari sekadar menarik uang di ATM, tetapi juga berfungsi sebagai kartu debit dan secara teknis lebih mudah menyadap data kartu pada kasir mesin debit dibandingkan dengan pada ATM.
Karena mesin debit sudah menyebar meluas dan dapat diakses dengan mudah tanpa pengawasan seperti mesin ATM dan mayoritas keypad pada alat debit sampai saat ini belum dipasangi penutup. Jika anda pengguna ATM dan kartu debit, ada baiknya menerapkan satu kebiasaan baru, yaitu tutupi keypad saat memasukkan PIN di mana pun, di ATM, kasir supermarket, atau ketika berbelanja ke Mangga Dua.
Bagi bank, penulis hanya memberikan satu saran yang harusnya sudah dilakukan dari tahun-tahun lalu. Segera ganti kartu-kartu ATM yang menggunakan teknologi magnetik kuno ini dengan kartu cip yang memiliki keuntungan utama mampu mengenkripsi data kartu dan selalu disiplin cadangkan dana untuk meng-update pengamanan ATM. Karena, sekali lagi, keamanan bukanlah sebuah produk, tetapi keamanan adalah sebuah proses.
Dikutip dari Kompas.COM (Oleh: Alfons Tanujaya)
Tips untuk mencegah ATM Security Breach:
1. Jika Bank Anda menyediakan, segera ganti kartu magnetik ATM anda dengan Kartu Magnetik dengan Chip.
1. Selalu Gunakan ATM di tempat yang ramai/aman (Ada Satpamnya).
2. Tutupi Jari anda pada saat mengetikkan pin.
3. Jangan beritahukan pin anda pada siapapun, walaupun niatnya terlihat baik.
4. Jika ada masalah dengan ATM, segera datangi atau hubungi Bank anda. Jika anda tidak mengingat nomornya, gunakan 108 untuk memperolehnya.
5. Ganti pin anda setiap 3 bulan sekali
6. Gunakan pin yang tidak ada kaitannya dengan informasi kartu identitas anda (misal: tgl lahir, nomor rumah, rt/rw, dsb)
7. Jika anda merasa ada yang aneh dengan bentuk mesin ATM (misal ada bag yang menonjol di slot kartu), urungkan niat anda untuk menggunakan ATM, dan hubungi Bank Anda segera.
8. Periksa saldo anda secara berkala, melalui cetak buku tabungan atau internet banking.
Saturday, September 26, 2009
4 Cara Mengkontrol Penyebab Stres
Dalam bukunya yang berjudul Overworked, Overwhelmed, and Underpaid, Barajas menceritakan tentang orang-orang yang memiliki tipe dualsentris. Orang-orang semacam ini menempatkan pekerjaan dan kehidupan pribadinya dalam level yang sama. Dan ketika terjadi keseimbangan seperti ini, maka stres tak akan terlalu terasa menekan. Barajas menekankan 4 poin untuk membantu kita menyeimbangkan hidup;
1. Tetapkan batasan tegas antara pekerjaan dan sisa hidup Anda lainnya. Barajas mengatakan pentingnya untuk mendefinisikan garis antara rumah dan pekerjaan. Ketika orang yang memiliki dualsentris tadi bekerja, mereka fokus dalam pekerjaan. Ketika mereka pulang ke rumah, pekerjaan dan segala hal yang terkait dengannya ditinggalkan di kantor. Mereka jarang membawa pulang pekerjaan, dan tak membuka jalur komunikasi yang berurusan dengan pekerjaan di luar jam kantor.
2. Fokus dengan apa yang Anda kerjakan di saat ini. Berada di suatu tempat tidak berarti Anda bisa fokus dengan keadaan. Ketika Anda memberikan atensi terbesar di manapun Anda berada, secara fisik, mental, dan emosional, Anda akan mendapati bahwa Anda bisa memberi sekaligus mendapatkan lebih banyak, baik itu dari tugas kantor, maupun hubungan Anda. Usahakan untuk berada di suatu tempat dan fokus, jangan biarkan pikiran Anda mengembara ke mana-mana saat Anda seharusnya melakukan sesuatu.
3. Ambil waktu untuk beristirahat dan menyembuhkan diri. Akan sangat baik untuk bisa mencapai atau melebih ekspektasi di pekerjaan, namun yang tak kalah pentingnya untuk memperhatikan jangka panjang, yakni kesehatan Anda. Menjaga diri Anda adalah investasi jangka panjang yang amat berharga secara profesional dan personal. Barajas memberi saran untuk menciptakan sebuah atmosfer untuk kemungkinan hal ini. Manjakan diri Anda untuk me-recharge kembali energi Anda, dengan kata lain, jangan lupa untuk mencari ‘me-time’.
4. Tetapkan prioritas Anda. Ketika Anda merasa kelelahan kala bekerja, kenyataannya, Anda sudah kehilangan prioritas Anda. Anda harus memutuskan apa yang penting untuk Anda. Salah satu cara untuk mendapatkannya adalah dengan menciptakan sebuah cetak biru hidup. Tetapkan apa tujuan hidup, peran yang ingin Anda emban, nilai-nilai, dan arti hubungan Anda. Ketika Anda mendesain cetak biru hidup Anda, kerjakan dan lakukan semampunya, niscaya stres akan menjauh dan hidup Anda lebih penuh. Tentunya ciptakan cetak biru dan cita-cita yang realistis agar tak menjadi beban yang berat di pundak Anda.
Sunday, August 30, 2009
Tips Mengurangi Pengeluaran Bulanan
Banyak hal yang sebenarnya dapat kita lakukan untuk mulai lebih cermat dalam mengatur pengeluaran. Coba lihat catatan pengeluaran Anda setiap bulan. Adakah yang dapat dikurangi atau bahkan dihapuskan? Bila salah satu pengeluaran dihapuskan, besarkah pengaruhnya untuk kesehatan keuangan Anda secara keseluruhan? Adakah suatu "kemewahan" dalam gaya hidup Anda yang bisa sedikit dikurangi? Ini yang mungkin dapat Anda pertimbangkan:
Batasi makan di luar rumah.
Biasanya Anda tak pernah berpikir dua kali saat memutuskan makan malam atau ngopi-ngopi di mal sepulang kantor. Namun bila Anda mulai merasakan tambahan biaya saat harga-harga naik, pikirkan kembali hal ini. Anda bisa memilih makan di luar pada hari Jumat, atau pada hari Sabtu-Minggu saja. Anda akan sangat menghemat pengeluaran. Bila perlu, bawa sendiri makan siang untuk di kantor.
Hitung lagi pengeluaran untuk komunikasi.
Untuk apa mengambil paket BlackBerry yang Rp 250.000,- atau unlimited? Pilih saja yang paling murah, Rp 150.000,-, lalu sering-seringlah nongkrong di area hotspot. Di saat yang sama, batasi ngobrol melalui ponsel. Bila Anda juga menggunakan kartu CDMA, jangan hanya menggunakannya untuk menelepon ke sesama operator (jika pulsanya hemat, bukankah sisanya masih banyak?).
Kurangi pengeluaran untuk majalah.
Anda mungkin senang membeli majalah-majalah fashion atau lifestyle, baik lokal maupun asing. Bila ingin bijaksana, langganan saja salah satunya, dan hindari membeli setiap edisi majalah lain yang Anda anggap menarik isinya. Seringkali Anda juga membeli majalah hanya karena memberikan bonus tas yang lucu. Padahal, isinya tidak menarik perhatian Anda.
Kurangi pengeluaran untuk transportasi.
Jika kawasan perumahan Anda menyediakan bus feeder busway, tinggalkan mobil Anda di rumah atau di terminal, dan gunakan transportasi umum ini. Atau, jika ada beberapa orang di kantor Anda yang tinggal di kawasan yang berdekatan, aturlah untuk menggunakan satu mobil saja. Anda bisa patungan untuk membayar tol atau bensin.
Downgrade program TV berlangganan.
Jika Anda baru tiba di rumah rata-rata pukul 21.00, weekend pun sering menghabiskan waktu di luar rumah, untuk apa mengambil program TV berlangganan yang premium? Ambil saja paket berlangganan yang dasar, sekadar agar Anda dapat menikmati tayangan TV yang lebih jelas.
Kurangi pengeluaran listrik,
dengan mematikan AC saat Anda sudah tidak berada di kamar, mematikan lampu-lampu saat Anda bepergian malam hari, tidak membiarkan komputer terus menyala saat Anda melakukan aktivitas lain, mematikan TV saat tidak ada yang menonton di depannya, dan lain sebagainya. Selain menghemat biaya, Anda juga sudah mendukung kampanye go green atau antipemanasan global.
Jangan terlambat membayar kartu kredit atau asuransi.
Keterlambatan akan menyebabkan Anda terkena denda yang lumayan besar jumlahnya. Atasi rasa malas Anda untuk mengunjungi bank, atau buat reminder bahwa Anda sudah harus membayar tagihan.
Penghematan pengeluaran dari masing-masing pos ini mungkin tak terlalu banyak. Namun jika diakumulasi, paling tidak Anda bisa menabung Rp 1.000.000,-. Bila Anda sudah membiasakan diri berhemat dan melihat hasilnya, Anda akan makin bersemangat untuk mengurangi pengeluaran di pos-pos lain.
Friday, May 22, 2009
Evaluasi Ulang Pekerjaan
1. Apakah Anda suka dengan kultur dan lingkungan kerjanya?
Kultur dari sebuah perusahaan bisa memberi efek yang cukup besar terhadap kebahagiaan dan kesuksesan karyawannya. Apakah nilai-nilai yang diemban perusahaan sama dengan apa yang junjung? Jika ada hal-hal di dalam perusahaan yang tak sesuai dengan norma atau nilai di dalam diri Anda, sebaiknya Anda pikirkan untuk mencari tempat baru.
2. Apakah sulit untuk berangkat kerja?
Ketika Anda bangun di pagi hari, apakah Anda mendapati diri Anda tak bersemangat? Anda yang paling paham apa yang Anda rasakan di pagi hari sebelum berangkat bekerja. Apakah sering muncul alasan-alasan ‘ajaib’ yang datang di kepala untuk bolos kerja (lagi).
3. Bagaimana hubungan dengan atasan?
Alasan terbanyak orang meninggalkan pekerjaannya adalah karena ketidakcocokkan dengan atasan atau dengan si bos. Karyawan perlu untuk bisa bekerjasama dengan bos agar bisa terus bekerja dengan baik. Semakin banyak Anda bergaul atau bekerja dengan orang bergaya kepemimpinan yang berbeda, Anda akan semakin tahu tipe orang seperti apa yang cocok dengan Anda. Apakah pekerjaan Anda akan lebih baik jika pimpinan Anda diganti? Bagaimana jika ganti departemen saja, apakah akan lebih baik?
Apakah Anda bisa membicarakan mengenai perasaan Anda kepada si pimpinan, atau mungkinkah Anda menemukan cara baru untuk berkomunikasi? Jika Anda sudah mencoba dan mencari cara-cara baru namun masih belum juga ada titik terang untuk bisa berkomunikasi lebih baik dengan si atasan, mungkin memang sudah saatnya untuk mencoba bekerja di tempat baru.
4. Sukakah Anda dengan tugas dan pekerjaan sehari-hari?
Mungkin memang tak ada pekerjaan yang benar-benar hanya seputar bersenang-senang dan bermain-main, namun setidaknya seharusnya Anda bisa menemukan sedikit kesenangan dalam menjalani pekerjaan sehari-hari. Tugas sehari-hari Anda seharusnya bisa merefleksikan sisi terbaik dan kelebihan Anda. Misalnya, jika Anda senang bertemu, berkenalan, dan bekerja dengan orang baru, atau senang bertualang, mungkin Anda akan kesusahan dan tak kerasan bekerja 9 jam di belakang komputer.
5. Dapatkah Anda melihat masa depan dalam profesi ini?
Apakah perusahaan Anda akan memberikan pelatihan atau peningkatan kinerja? Bisakah Anda melihat diri Anda menapaki titian karir di perusahaan ini jika Anda mau? Jika pernah ada diskusi untuk melihat kemungkinan ini namun Anda tak melihat respons yang bagus, mungkin tak ada potensi bagus untuk Anda.
Sebelum Anda benar-benar meninggalkan ‘perahu’ Anda, pastikan dulu bahwa Anda sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa mengubah situasi yang membuat Anda tak betah di sana. Carilah sebisa mungkin orang kompeten yang bisa Anda temui di kantor untuk membicarakan masalah yang dihadapi supaya bisa terus menjalani pekerjaan Anda. Proaktiflah dalam mencari kemungkinan untuk berkomunikasi kepada bos atau SDM bagaimana Anda bisa lebih sukses dalam karir. Jika Anda merasa belum mengalami perubahan positif dalam waktu dekat, evaluasi ulang apakah Anda sudah berupaya cukup banyak. Cukup tanyakan pada diri Anda “apakah saya sudah melakukan segala hal dengan segala kemampuan saya untuk memajukan karir saya di sini?” jika jawabannya ya, dan Anda masih merasa tak kerasan juga, mungkin sudah saatnya mencari pekerjaan di tempat lain. Semoga berhasil!
Laporan wartawan C6-09 Nadia Felicia @ kompas.com
Friday, April 17, 2009
KERJA IKHLAS = KERJA BODOH ?
Di jaman yang hampir semua hal diukur dengan materi, kerja ikhlas menjadi
hal yang langka. Pelakunya pun kerap disebut orang aneh, orang antik atau
orang yang melakukan hal bodoh. Kebanyakan orang di jaman ini memang bekerja
dengan "tulus" tetapi tidak ikhlas!
"Lho, apa bedanya Pak?", tanya para mahasiswa yang mengikuti kuliah atau
seminar saya. Saya sering menjawab,"Tulus adalah singkatan dari TUjuannya
fuLUS". Jadi bekerja karena motivasinya adalah untuk mendapatkan uang. Jika
mendapatkan uang banyak maka bekerja keras dengan sangat baik, tetapi jika
mendapat uangnya sedikit maka kerjanya asal saja. Hal inilah yang dilakukan
oleh kebanyakan orang. Bekerja untuk memperoleh imbalan yang setimpal dengan
pekerjaan menurut ukurannya masing-masing.
Tetapi jika bekerja dengan hati ikhlas, berarti bekerja dengan berdasarkan
kasih dan kerelaan hati. Seperti matahari pagi yang selalu rajin tidak
pernah terlambat selalu bersinar dan tidak pernah mengharapkan imbalan atau
balasan kembali. Matahari juga tidak peduli apakah manusia mau menerima
sinarnya atau bahkan menolaknya.
Sebuah kisah nyata yang diceritakan oleh seorang teman saya terjadi di
Bandung beberapa waktu yang lalu. Kisah nyata ini dapat dijadikan suatu
bahan renungan tentang keihklasan hati dalam bekerja.
Seorang mahasiswa yang baru lulus menjadi sarjana kedokteran di sebuah
perguruan tinggi negeri terkenal di Bandung memilih untuk bekerja menjadi
asisten laboratorium di almamaternya. Penghasilan yang diterimanya sebagai
asisten lab sangatlah kecil, bahkan tidak mencukupi walau pun hanya untuk
membayar biaya transportasi ke kampusnya. Tetapi dia mencintai pekerjaan
menjadi asisten dan melakukannya dengan ikhlas karena memang mencintai
pekerjaan mengajar.
Banyak orang yang mengatakan bahwa dia bodoh karena memilih bekerja menjadi
asisten lab. Padahal sebagai sarjana kedokteran dari universitas negeri
terkenal, dia memiliki peluang besar untuk bekerja di perusahaan swasta yang
memberikan penghasilan berpuluh-puluh kali lebih besar.
Walau orang tuanya pun mendesaknya untuk mencari pekerjaan lain, dia tetap
memilih membantu almamaternya menjadi asisten lab. Semua hal itu dilakukan
dengan hati yang ikhlas. "Pekerjaan ini membahagiakan hati saya", katanya.
Suatu saat datanglah seorang profesor dari Jepang berkunjung ke universitas
tersebut. Karena semua dosen sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing,
maka ditugaskanlah asisten lab tersebut untuk menemani dan membantu sang
profesor selama berada di Bandung.
Asisten tersebut bisa saja menolaknya karena hal itu bukanlah tugasnya
sebagai asisten lab. Dia tidak dibayar untuk hal itu. Tetapi dia memilih
untuk tetap menerima tugas itu dengan hati yang ikhlas dan berusaha membantu
sebisanya tanpa mengeluh.
Walau pun sama sekali tidak bisa berbahasa Jepang, dia berusaha sebaik
mungkin membantu sang profesor. Mengantarnya mencari makanan untuk makan
siang dan makan malam, berbelanja oleh-oleh Bandung, berkunjung ke Gunung
Tangkuban Perahu, dan tempat-tempat wisata lainnya. Dia selalu mengantar ke
mana pun sang profesor ingin pergi dengan tersenyum.
Setiap hari dia menjemput sang profesor dan mengantarkannya kembali ke hotel
tempat sang profesor menginap. Sampai saatnya profesor itu kembali ke
Jepang, sang profesor memberikan jam tangannya kepada asisten lab tersebut
sebagai tanda terima kasih. Hati sang Profesor sangat tersentuh dengan
keramahan dan keikhlasan hati asisten lab yang telah membantunya selama
berada di Bandung.
Beberapa tahun kemudian, sang profesor telah terlupakan dalam ingatan
asisten lab tersebut. Dan dia masih bekerja masih bekerja ikhlas sebagai
asisten di universitas tersebut. Hingga datanglah sebuah kesempatan beasiswa
belajar kedokteran sampai jenjang S-3 dari sebuah universitas di Jepang bagi
akademisi di universitas negeri di Bandung tersebut.
Dosen-dosen yang lebih senior segera mengirimkan aplikasi permohonan
beasiswa ke universitas di Jepang tersebut. Tetapi ternyata oleh universitas
di Jepang yang memberi beasiswa tersebut semuanya ditolak!
Ternyata sang Profesor di universitas Jepang itu yang menolaknya. "Saya
hanya mau menerima dan merekomendasikan anak muda yang dulu pernah
antar-antar saya selama saya di Bandung!", katanya dengan tegas.
Akhirnya sang asisten lah yang mendapatkan kesempatan untuk meneruskan
kuliah dengan beasiswa di Jepang. Dia melampaui dosen-dosennya yang lebih
senior untuk mendapat kesempatan kuliah lebih tinggi. Kabar terakhir yang
saya terima, saat ini dia masih sedang menyelesaikan kuliah S-3
kedokterannya di Jepang.
Dari kisah nyata itu saya berkesimpulan bahwa kerja ikhlas bukanlah kerja
bodoh, melainkan kerja yang sangat pintar!
Walau pun dengan bekerja ikhlas kita tidak dipedulikan atasan kita, orang
disekitar kita, atau tidak dipedulikan orang lain... tetaplah bekerja dengan
x-tra kerja ikhlas! Faktor X ke tiga dalam fondasi kesuksesan seseorang.
Ingatlah! Bahwa walau pun semua orang di dunia tidak peduli dan menutup mata
terhadap apa pun keikhlasan yang kita perbuat, tetapi Tuhan akan selalu
peduli dan tidak akan menutup mata Nya kepada keikhlasan hati kita.
Di saat yang TEPAT Dia akan memanggil malaikat Nya, "Kat, Kat,
malaikat...kasih BERKAT untuk orang yang ikhlas itu".
Salam Ikhlas dimanapun anda berada...
Thursday, December 25, 2008
To Do: What? Which One? How? What if? WTF?
If you want something done, do it yourself
Comment: Obviously true, and doing it is usually very good for your self esteem. A surprising amount of work can be done this way, and experts are not always necessary. However, there is a risk of becoming overworked if you try to do everything yourself - we all need other people after all.Never procrastinate anything you can do right now
Comment: Very powerful. There are many things that can be fixed or solved with a minimum of effort, but are often pushed aside as unimportant. Unfortunately they won't go away, and in time the feelings of guilt for not having done them will make you even less likely of fixing the problems.When you have several things you could be doing and don't know which to do: Just do any one of them!
Comments: If you cannot decide between two or more possibilities, then there is a good chance that the differences don't matter. However, most people begin to hesitate in this kind of situation. If you are conscious of this, you can just choose one choice randomly or according to some standard method.Always assume that you will succeed
Comments: If you don't expect to succeed in an endeavor, then you will not do your best and will not notice possible solutions, while if you feel that you will eventually succeed you will concentrate all your power at the problem. Of course, there is no point in attempting what you cannot do, a certain amount of self-knowledge is always needed.If you can't find a solution, change the rules.
Comment: Remember that there are no no-win scenarios.If you cannot do anything about something, there is no point in worrying about it.
Comment: Worrying is stressful, and in most situations doesn't accomplish anything - it just wastes energy. Instead of worrying about things, either do something about them or find ways around the problem. One useful idea is to write down your worries on slips of paper, and then put them away in a box. Regularly, once a week or so, you open the box and see what you can do about the worries that are still relevant.Do not rely on conscious decisions for speed - Just Do It
Comments: The conscious mind is surprisingly slow, conscious choices and actions are delayed for a significant time (a reflex acts within some tens of milliseconds, an unconscious reaction to external stimuli circa 100 milliseconds and a conscious choice several seconds). The duty of the conscious mind is usually to inhibit rather than start action, and if you become too conscious of what you are doing in a tense situation you will hesitate or slow down.It is a good idea to learn to rely on your non-conscious mind, since our conscious mind is slow and has very low bandwidth while the other systems in our brains have a tremendous capacity and actually do most of the real work anyway.
Don't try to explain away your actions for yourself
Comment: While we often do things we do not want to explain our real motivations for before other people (out of fear of embarrassment, anger or loss of image), it is a bad idea to try to convince oneself that the motivation was anything different from what it was. It will only reduce your self-knowledge with deliberate misinformation, and it is often valuable to understand what motivations you have (even if you dislike them or would never admit them in public).Listen to your intuition, but do not believe it unconditionally
Comments: Intuitive or emotional thinking, analogies, "gut feelings" or "flashes of inspiration" can sometimes give fantastic new insights or show problems from a new direction. Unfortunately such thinking isn't always reliable, and quite often completely wrong! Such insights should never be accepted because you admire their beauty or they are intuitive, only because they fit with reality.Programming Quotations
“Debugging is twice as hard as writing the code in the first place. Therefore, if you write the code as cleverly as possible, you are, by definition, not smart enough to debug it.”
- Brian Kernighan
“There are only two kinds of languages: the ones people complain about and the ones nobody uses.”
- Bjarne Stroustrup
“Any fool can write code that a computer can understand. Good programmers write code that humans can understand.”
- Martin Fowler
“There are two ways of constructing a software design: One way is to make it so simple that there are obviously no deficiencies, and the other way is to make it so complicated that there are no obvious deficiencies. The first method is far more difficult.”
- C.A.R. Hoare
“Most software today is very much like an Egyptian pyramid with millions of bricks piled on top of each other, with no structural integrity, but just done by brute force and thousands of slaves.”
- Alan Kay
“Measuring programming progress by lines of code is like measuring aircraft building progress by weight.”
- Bill Gates
“If you want to set off and go develop some grand new thing, you don’t need millions of dollars of capitalization. You need enough pizza and Diet Coke to stick in your refrigerator, a cheap PC to work on and the dedication to go through with it.”
- John Carmack
“Programs must be written for people to read, and only incidentally for machines to execute.”
- Abelson / Sussman
“Question: How does a large software project get to be one year late? Answer: One day at a time!”
- Fred Brooks
“Nobody should start to undertake a large project. You start with a small trivial project, and you should never expect it to get large. If you do, you’ll just overdesign and generally think it is more important than it likely is at that stage. Or worse, you might be scared away by the sheer size of the work you envision. So start small, and think about the details. Don’t think about some big picture and fancy design. If it doesn’t solve some fairly immediate need, it’s almost certainly over-designed. And don’t expect people to jump in and help you. That’s not how these things work. You need to get something half-way useful first, and then others will say “hey, that almost works for me”, and they’ll get involved in the project.”
- Linus Torvalds