Dalam pandangan dan pikiran kebanyakan orang, ”kematangan pribadi” ditandai dengan keberanian memasuki jenjang perkimpoian, punya penghasilan sendiri serta lepas dari bimbingan orang tua. Namun terutama dalam situasi menekan, kritis dan berisiko, kita sendiri kemudian dapat menyadari ataupun menyaksikan bahwa tanggapan individu sering menunjukkan ketidakdewasaan.
Seorang atasan bisa saja “mengecilkan” harga diri bawahannya sedemikian rupa, sebagai salah satu cara untuk menyelamatkan posisi dan jabatannya, sehingga setiap individu yang menyaksikan kejadian tersebut bisa melihat bahwa sang atasan-lah yang tidak bijaksana.
Seorang profesional pun bisa tidak mengakui kesalahan yang dibuat, bahkan menuding orang lain yang perlu bertanggung jawab atas kesalahan yang dibuatnya. Artinya disini kita bisa menyimpulkan bahwa tidak bijaksananya individu disebabkan karena ia belum mencapai tingkat kematangan yang diharapkan baik oleh lingkungan maupun oleh dirinya sendiri. Kenyataan yang perlu kita simak bersama adalah bahwa kematangan itu tidak diturunkan dan bukan bawaan dari lahir. Tetapi benar-benar dipelajari dan dilatih dengan sepenuh hati. Walaupun seorang yang sudah berangkat matang, tapi akhirnya kemudian kematangannya bisa merosot karena berada di lingkungan yang bobrok.
Salah seorang pakar Psikologi Kepribadian mendeskripsikan lima persyaratan tentang kematangan pribadi yaitu berpikir obyektif, berpikir positif, mampu mengendalikan dan menyalurkan emosi, bertanggung jawab serta mampu membina hubungan interpersonal yang harmonis dan konsisten dalam waktu yang relative panjang. Kemudian disebutkan : “Maturity is humility.It is being big enough to say “I was wrong”. And when right, the mature person need to experience the satisfaction of saying, “I told you so””.
Dalam proses pemilihan kandidat pemimpin eksekutif atau pejabat tertentu sering dilakukan “fit and proper test”. Hal ini dilakukan dengan melihat kematangan pribadi sebagai kriteria utama dalam pemilihan calon pemimpin tersebut. Ditemukan bahwa banyak kandidat yang pintar-pintar, namun justru yang dicari adalah pemimpin yang punya ciri kematangan yang disebutkan di atas. Dari pengamatan sehari-hari jelas bahwa ketidakmatangan yang disebutkan ini sering terlihat pada ketidakberanian pemimpin tersebut untuk mengambil keputusan, memaksakan pendapat, meng-”abuse” kekuasaan, serta ketidakmampuan membina hubungan antar manusia secara fair dan bertanggung jawab. Dan indikasi yang ditemukan adalah pernyataan dari orang lain yang bisa mencerminkan tingkat kematangan pimpinannya misalnya :”Bapak Joke mengambil keputusan yang sangat tidak bijaksana dalam mengelola masalah bisnis kita. Setelah lama menjabat , tetap tidak ada perbedaan yang atau perbaikan yang berarti dihasilkan buat organisasi kita”. Dan terlihat dari efek yang timbul adalah ketidakharmonisan dan juga kinerja yang tidak optimal di kalangan individu dalam organisasi tersebut.
Dari kenyataan ini, kita bisa belajar bahwa pada dasarnya pendidikan dan kepintaran tidak selamanya berhubungan langsung dengan kematangan pribadi, terutama kalau individu mengembangkan fungsi-fungsi di dalam dirinya secara berat sebelah, misalnya saja banyak berpikir tanpa mengembangkan kepribadian dalam kehidupan seharihari di organisasi. Sering ditemukan dalam kesehariaan di organisasi perusahaan bahwa kenyamanan lingkungan kerja dapat menyebabkan orang tidak berani keluar dari lingkungan tersebut, memelihara sikap kebal dan pengecutnya, bahkan mengembangkan dirinya menjadi pribadi yang tidak matang. Sosok pribadi tersebut hanya melakukan prinsip “play not to loose”, bukannya “play to win”.
Tumpulnya kesadaran yang dipelihara sering menyebabkan ketidakmampuan individu untuk berdialog dengan hati nurani atau kata hatinya , sehingga ia kehilangan kacamata objektif dan positifnya dan memang dibutakan dari realitas yang sebenarnya.
Salah satu sifat ksatria yang dimiliki oleh budaya Jepang di zaman para samurai adalah tindakan “hara-kiri” (bunuh diri demi kehormatan). Di zaman modern seperti sekarang ini budaya tersebut tentunya bisa tampil dalam bentuk yang lebih elegan untuk tampil sebagai seorang ksatria yaitu : “Shame and Guilt”, alias malu dan bersalah, seperti tindakan yang bertanggung jawab atau bahkan mengundurkan diri dari seorang pejabat atau pemimpin atas kejadian yang dilakukannya atau dibawah pimpinanannya yang telah merugikan orang lain, perusahaan atau negaranya.
Introspection Moment
Berbeda dengan prestasi yang langsung terukur (misalnya: pencapaian sales performance, peningkatan penguasaan pangsa pasar, peraihan aspek keuangan yang baik dan sebagainya), individu memang tidak bisa “pamer kematangan”dengan mudah, tetapi harus membuktikannya dengan tindakan yang teruji dari waktu ke waktu. Sikap objektif, positif, bertanggungjawab dan matang emosi hanya bisa ditakar dalam hati.
Bila seorang pimpinan ingin bersikap tulus, bijaksana, adil, jujur dan seimbang dalam memberikan arahan dan mendengar masukan dari orang lain, maka ia perlu menyelesaikan pergulatan dan konflik internalnya di dalam hati sendiri (vested interest) dengan “corporate values” dan selalu berusaha untuk memelihara harmonisasi dalam penyelesaian konflik tersebut dengan bijaksana.
Tidak dapat disangkal di lingkungan organisasi kita ini banyak orangorang pintar dengan pemikiran dan keahlian yang luar biasa, tinggal tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita bisa menjadi pemimpin atas diri masing-masing dengan menjadi individu yang memiliki pribadi matang. Sudah bisa dibayangkan fenomena ini akan menjadi “Flywheel Effect” yang bisa menjadi energi luarbiasa buat organisasi kita khususnya untuk bisa “survive in crisis mode” saat ini.
No comments:
Post a Comment